MASALAH, FOKUS, JUDUL, DAN TEORI DALAM PENELITIAN KUALITATIF

 

 

A.   Masalah

 

Setiap penelitian baik penelitian kuantitatif maupun kualitatif selalu berangkat dari masalah. Namun terdapat perbedaan yang mendasar antara “masalah “ dalam penelitian kualitatif “masalah “ yang akan di pecahkan melalui penelitian harus jelas, spestik, yang di bawa oleh peneliti masih remang-remang, bahkan gelap kompleks dan dinamis. Oleh karena itu, “masalah “ dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara. Tentative dan akan berkembang atau berganti setelah peneliti berada di lapangan.

Menurut Strauss dan Corbin (2003) “Penelitian kualitatif” dimaksud sebagai jenis  penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya. Setiap penelitian baik penelitian kuantitatif maupun kualitatif selalu berangkat dari masalah.

Masalah dalam penelitian kualitatif  bertumpu pada suatu fokus. Pada dasarnya penentuan masalah menurut Lincoln & Guba (1985 : 226) bergantung pada paradigma apakah yang dianut oleh seorang peneliti. Dalam penelitian kualitatif, akan terjadi tiga kemungkinan terhadap “masalah “ yang di bawa oleh peneliti dalam penelitian :

  1. Masalah yang di bawa oleh peneliti tetap, sehingga sejak awal sanpai akhir penelitian sama.
  2. Masalah yang di bawa peneliti setelah memasuki penelitian berkembang yaitu memperluas atau memperdalam masalah yang telah di siapkan. Dengan demikian tidak terlalu banyak perubahan, sehingga judul penelitian cukup di sempurnakan.
  3. Masalah ketidaksesuaian, Dengan demikian judul proposal dengan judul penelitian tidak sama dengan judulnya diganti. Dalam institusi tertentu, judul yang diganti ini sering mengalami kesulitas administrasi.

 Oleh karena itu institusi yang menangani penelitian kualitatif, harus mau dan mampu menyesuaikan dengan karakteristik masalah kualitatif ini.


 

Masalah adalah suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antara dua faktor atau lebih yang menghasilkan situasi yang menimbulkan tanda tanya dan dengan sendirinya memerlukan upaya untuk mencari sesuatu jawaban (Guba, 1978 : 44; Linclon dan Guba, 1985 : 218 ; dan GubaLinclon, 1981 : 88). Atau masalah adalah penyimpangan antara yang seharusnya dengan yang terjadi. Tujuan suatu penelitian ialah upaya untuk memecahkan masalah. Perumusan masalah dilakukan dengan jalan mengumpulkan sejumlah pengetahuan yang memadai dan yang mengarah pada upaya untuk memahami atau menjelaskan factor–factor yang berkaitan yang ada dalam masalah tersebut. Jadi, proses tersebut berupa proses dialektik yang berperan sebagai proposisi terikat dan antithesis yang membentuk masalah berdasarkan usaha sintesis tertentu.

Dua maksud yang  ingin dicapai peneliti dalam merumuskan masalah penelitian :

 

  1. Penetapan focus dapat membatasi study. Jadi, dalam hal ini fokus akan membatasi bidang inkuiri.
  2. Penetapan focus itu berfungsi untuk memenuhi kriteria inklusi – ekslusi atau kriteria masuk  – keluar suatu informasi yang baru diperoleh dilapangan.

 

Penetapan focus atau masalah dalam penelitian kualitatif  bagaimana pun akhirnya akan dipastikan sewaktu peneliti sudah berada di arena atau lapangan penelitian. Dengan demikian kepastian tentang fokus dan masalah itu yang menentukan adalah keadaan di lapangan. Perumusan masalah yang bertumpu pada fokus dalam penelitian kualitatif bersifat tentatif artinya penyempurnaan rumusan fokus atau masalah itu masih tetap dilakukan sewaktu penelitian sudah berada di latar penelitan. Pembatasan masalah merupakan tahap yang sangat menentukan dalam penelitian kualitatif, walaupun sifatnya masih tentatif, sehingga dapat ditarik kesimpulan penting yaitu:

 

  1. Pertama,  suatu penelitian tidak dimulai dari sesuatu yang vakum (kosong ).
  2. Kedua, focus pada dasarnya adalah masalah pokok yang bersumber dari pengalaman peneliti atau melalui pengetahuan yang diperolehnya melalui kepustakaan ilmiah ataupun kepustakaan lainnya.
  3. Ketiga, tujuan penelitian pada dasarnya adalah memecahkan masalah yang telah dirumuskan.
  4. Keempat, masalah yang bertumpu pada focus yang ditetapkan bersifat tentatif, dapat diubah sesuai dengan situasi latar penelitian

 

Model Perumusan Masalah

 

Salah satu teknik yang sering digunakan dalam proses penelitian adalah membuat model obyek yang akan diselidiki. Karena model itu merupakan tiruan kenyataan, maka ia harus dapat menggambarkan berbagai aspek yang diselidiki. Salah satu alasan utama pengembangan model adalah untuk lebih memudahkan pencarian variabel-variabel yang penting dan berkaitan dengan penelitian yang dilakukan.

Menemukan Sumber – Sumber Masalah Penelitian

  1. Kriteria Analisis

-          Rumusan masalah tersebut telah menghubungkan dua atau lebih halatau factor (defenisi masalah)

-          Rumusan masalah itu dipisahkan dari tujuan penelitian

-          Uraian dalam bentuk deskriptif saja atau deskriptif disertai pertanyaan penelitian

-          Uraian masalah dipaparkan secara khusus sehingga telah dapat memenuhi criteria inklusi-ekslusi.

-          Hipotesis kerja dinyatakan secara eksplisit dan berkaitan dengan masalah penellitian

-          Pembatasan study dinyatakan dengan istilah fokus.

 

Sumber masalah biasanya dapat diangkat menjadi topik dari sebuah penelitian, ada beberapa sumber masalah, antara lain :

  • Kehidupan sehari-hari

Berasal dari hal-hal yang menjadi kebiasaan yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.

  • Masalah praktis

Masalah yang harus diselesaikan yang cepat, sehingga masalah tesebut tidak berlarut-larut menjadi masalah.

  • Hasil penelitian sebelumnya

Masalah yang peneliti rasa tidak tuntas diteliti oleh penelitian sebelumnya, seperti penelitian pada jurnal, skripsi, tesis, disertasi ataupun penelitian lainnya

  • Teori

Bedasarkan teori yang telah ada dan diakui. Biasanya peneliti ingin mencari hubungan antara teori-teori tersebut untuk mendapatkan teori baru.

Prinsip-prinsip Perumusan Masalah

 

  1. Prinsip yang Berkaitan dengan Teori dari Dasar

Peneliti hendaknya senantiasa menyadari bahwa perumusan masalah dalam penelitiannya didasarkan atas upaya menemukan teori dari dasar sebagai acuan utama. Perumusan masalah adalah sekadar arahan pembimbing atau acuan pada usaha untuk menemukan masalah yang sebenarnya. Masalah sesungguhnya baru akan dapat dirumuskan apabila peneliti sudah berada dan mulai, bahkan sedang mengumpulkan data.

  1. Prinsip yang Berkaitan dengan Maksud Perumusan Masalah

Perumusan masalah di sini bermaksud menunjang upaya penemuan dan penyusunan teori substantif, yaitu teori yang bersumber dari data.

-          Peneliti merumuskan masalah dengan maksud menguji suatu teori dengan menyadari segala macam kekurangan akibat tindakannya.

-          Penekanan pada suatu usaha penemuan dapat membawa peneliti untuk  juga dapat menguji suatu teori yang sedang berlaku.

-          Masalah yang dirumuskan dan mungkin disempurnakan akan berfungsi sebagai patokan untuk keperluan mengadakan analisis datadan kemudian menjadi hipotesis kerja.

  1. Prinsip Hubungan Faktor

Faktor-faktor di sini dapat berupa konsep, peristiwa, pengalaman, atau fenomena. Ada 3 aturan tertentu yang perlu dipertimbangkan oleh peneliti pada waktu merumuskan masalah tersebut :

-          Adanya dua atau lebih faktor

-          Faktor – factor itu dihubungkan dalam suatu hubungan yang logis atau bermakna

-          Hasil pekerjaan tadi menghubungkan suatu keadaan yang menimbulkan tanda tanya atau hal yang membingungkan, jadi suatu keadaan bersifat tanda tanya, yang memerlukan pemecahan atau upaya untuk menjawabnya. Jadi, walaupun ada factor – factor,  jika tidak dikaitkan satu dengan lainnya secara bermakna, hal itu berarti belum memenuhi persyaratan.

  1. Fokus sebagai wahana untuk membatasi study

Peneliti kualitatif bersifat terbuka artinya tidak mengharuskan peneliti menganut suatu orientasi teori atau paradigma tertentu. Peneliti boleh memilih paradigma ilmiah, alamiah ataupun paradigma tengah. Perumusan masalah bagi peneliti akan mengarahkan dan membimbing pada situasi lapangan bagaimanakah yang akan dipillih dari berbagai latar yang sangat banyak tersedia.

  1. Prinsip yang berkaitan dengan inklusi – ekslusi

Perumusan focus yang baik yang dilakukan sebelum peneliti ke lapangan dan yang mungkin disempurnakan pada awal ia terjun ke lapangan akan membatasi peneliti guna memilih mana data yang relevandan mana yang tidak. Data yang relevan dimasukkan dan dianalisis sedangkan yang tidak relevan dengan masalah dikeluarkan.

Masalah yang dirumuskan secara jelas dan tegas akan merupakan alat yang ampuh untuk memilih data yang relevan.

 

  1. Prinsip yang berkaitan dengan bentuk dan cara perumusan masalah

Ada tiga bentuk perumusan masalah :

-          Secara diskusi, cara penyajiannya adalah dalam bentuk pernyataan secara deskriptif namun perlu diikuti dengan pertanyaan – pertanyaan penelitian

-          Secara proposional, secara langsung menghubungkan factor – factor dalam hubungan logis dan bermakna

-                    Secara gabungan, terlebih dahulu disajikan dalam bentuk diskusi kemudian ditegaskan lagi dalam bentuk proposisional.

  1. Prinsip sehubungan dengan posisis perumusan masalah

Yang dimaksud dengan posisi disini adalah kedudukan untuk perumusan masalah diantara unsur-unsur peneliti lainnya. Unsur – unsur penelitian lainnya yang erat kaitanya dengan rumusan masalah ialah latar belakang masalah, tujuan, dan acuan teori dan metode penelitian :

-          Prinsip posisi menghendaki agar rumusan latar belakang penelitian didahulukan.

-          Prinsip lainnya ialah hendaknya rumusan masalah disusun terlebih dahulu

-          Prinsip berikutnya menghendaki agar sebaiknya rumusan masalah dipisahkan dari rumus dan tujuan

-          Prinsip terakhir menghendaki agar seharusnya rumusan masalah dipisahkan dari metode penelitian.

  1. Prinsip yang berkaitan dengan hasil penelaahan kepustakaan

Pada dasarnya perumusan masalah itu tidak bisa dipisahkan dari hasil penelaahan kepustakaan yang berkaitan, karena diperlukan untuk lebih mempertajam perumusan masalah itu, serta mengarahkan dan membimbing peneliti untuk membentuk kategori substantif.

  1. Prinsip yang berkaitan dengan penggunaan bahasa

Perumusan masalah dilakukan pada waktu mengajukan usulan penelitian dan diulangi kembali pada waktu menulis laporan. Pada waktu menulis laporan atau artikel tentang hasil penelitian, ketika merumuskan masalah, hendaknya peneliti memmpertimbangkan ragam pembacanya, sehingga rumusan masalah yang diajukan dapat disesuaikan dengan tingkat kemampuan menyimak para pembacanya.

Dengan kata lain, penulisan perumusan masalah harus disesuaikan dengan tingkat keumumannya para pembaca.

Langkah – langkah Perumusan Masalah

  1. Tentukan fokus penelitian
  2. Cari berbagai kemungkinan factor yang ada kaitan denganfocus tersebut yang dalam hal    ini dinamakan subfokus
  3. Dari antara factor – factor yang terkait adakan pengkajian mana yang sangat menarik    untuk ditelaah, kemudian tetapkan mana yang dipilih
  4. Kaitkan secara logis factor –factor subfokus yang dipilih dengan focus   penelitian.

 

  1. B.   Fokus

Salah satu asumsi tentang gejala dalam penelitian kuantitatif adalah bahwa gejala dari suatu objek itu sifat tunggal dan parsial. Dengan demikian berdasarkan gejala tersebut peneliti kuantitatif dapat menemukan variable-variabel yang akan di teliti. Dalam pandangan penelitian kualitatif, gejala itubersifat holistic (Menyeluruh tidak dapat di pisah-pisahkan), sehingga peneliti kualitatif tidak akan menetapkan penelitiannya hanya berdasarkan fariabel penelitian , tetapi keseluruhan situasi social yang di teliti yang meliputi aspek tempat (plase), peleku (actor) dan aktivitas (activity) tang berinteraksi secara sinergis.

Karena terlalu luasnya masalah, maka dalam rangka penelitian kuantitatif, peneliti akan membatasi penelitian dalam satu atau lebih variable. Dengan demikian dalam penelitian kuantitatif ada yang di sebut batasan masalah. Batasan masalah dalam penelitian kualitatif disebut dengan focus, yang berisi pokok masalah yang masih bersifat umum.

Pembatasan dalam penelitian kualitatif lebih didasarkan pada tingkat kepentingan, urgensi feabilitas masalah yang akan di pecahkan selain juga factor keterbatasan tenaga , dana dan waktu. Suatu masalah di katakan penting apabila masalah tersebut tidak di pecahkan melalui penelitian, maka akan semakin menimbulkan masalah baru. Masalah dikatakan urgen (mendesak) apabila masalah tersebut tidak segera di pecahkan melelui penelitian, maka akan semakin kehilangan berbagai kesempatan untuk mengatasi.

Masalah dikatakan fasible apabila terdapat berbagai sumber daya untuk memecahkan masalah tersebut. Untuk menilai masalah tersebut penting, urgen, dan feasible, maka perlu dilakukan melalui analisa masalah.

Dalam mempertajam penelitian,  peneliti kualitatif menentapkan focus. Spradley menyatakan bahwa “A focused refer to single cultural domain or afew related dominainsmaksudnya adalah bahwa, focus itu merupakan domain yang terkait dari situasi social. Dalam pemelitian kualitatif, penentuan focus dalam proposal lebih di dasarkan pada tingkat kebaruan informasi yang akan di peroleh dari situasi social (lapangan).

Kebaruan informasi itu biasanya berupa upaya untuk memahami secara lebih luas dan mendalam tentang situasi social, tetapi juga ada keinginan untuk menghasilkan hipotesis atau ilmu baru dari situasi social yang di teliti. Fokus yang sebenarnya dalam penelitian kualitatif di peroleh setelah peneliti melakukan grand tour observation dan grand tour question atau yang disebut dengan penjelajahan umun. Dari penjelajahan umum ini peneliti akan memperoleh gambaran umum menyeluruh yang masih pada tahap permukaan tentang situasi social.

Untuk dapat memehami secarah lebih luas dan mendalam, Maka diperlukan pemilihan fokus penelitian. Spladley dalam sanapiah faisal (1988) mengemukakan empat alternative untuk menetapkan fokus yaitu :

  1. Menetapkan fokus pada permasalahan yang disarankan oleh informal
  2. Menetapkan fokus berdasarkan domain-domain tertentu organizing domain
  3. Menetapkan fokus yang memiliki nilai temuan untuk pengembangan iptek
  4. Menetapkan fokus berdasarkan permasalahan yang terkait dengan teori-teori yang telah ada
  5. C.   Bentuk Rumusan Masalah

Berdasarkan level of explanation , suatu gejala, maka secara umum terdapat tiga bentuk rumusan masalah, yaitu rumusan masalah deskriptif, komparatif dan assosiatif :

-          Rumusan masalah deskriptif adalah suatu rumusan masalah yangmemandu peneliti untuk mengekslorasi dan atau memotret situasisocial yang akan diteliti secara menyeluruh, luas dan mendalam.

-          Rumusan masalah komparatif adalah rumusan masalah yang memandu peneliti untuk membandingkan antara konteks social atau domain satu dibandingkan dengan yang lain.

-          Rumusan masalah assosiatif atau hubungan adalah rumusan masalah yang memandu peneliti untuk mengkonstruksi hubungan antara situasi social atau domain satu dengan yang lainnya.

Rumusan masalah assosiatif di bagi menjadi tiga yaitu :

a). hubungan simetris,

b).kausal dan

c).reciprocal atau interaktif

Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab akibat. Selanjutnya hubungan reciprocal adalah hubungan yang saling mempengaruhi. Dalam penelitian kualitatif hubungan yang diamati atau ditemukan adalah hubungan yang bersifat reciprocal atau interaktif.

 

Dalam penelitian kuantitatif, ketiga rumusan masalah tersebut terkait dengan variable penelitian, sehingga rumusan masalah peneleti sangat spesifik, dan akan digunakan sebagai panduan bagi peneliti untuk menentukan landasan teori, hipotesis, insrumen, dan teknik analisis data.

Dalam penelitian kualitatif, karena masalah yang dibawa oleh peneliti masih bersifat sementara , dan bersifat (Menyeluruh), maka judul dalam penelitian kualitatif yang dirumuskan dalam proposal juga masih bersifat sementara, dan akan berkembang setelah memasuki lapangan. Judul laporan penelitian kualitatif yang baik justru berubah, atau mungkin diganti. Judul penelitian kualitatif yang tidak berubah, berati peneliti belum mampu menjelajah secara mendalam terhadap situasi social yang di telitih sehingga belum mampu mengembangkan pemahaman yang luas dan mendalam terhadap situasi social yang di teliti (situasi social= obyek yang di teliti)

Judul penelitian kualitatif tentu saja tidak harus mencerminkan permasalahan dan variabel yang di teliti, tetapi lebih pada usaha untuk mengungkapkan fenomena dalam situasi social secara luas dan mendalam, serta mengemukakan hipotesis dan teoti.

 

 

Berikut ini di berikan contoh rumusan masalah dalam proposal penelitian kualitatif tentang suatu peristiwa.

  1.  Apakah peristiwa yang terjadi dalam situasi social atau setting tertentu?

(Rumusan masalah deskriptif)

  1.  Apakah makna peristiwa itu bagi orang-orang yang ada pada setting itu?

 (rumusan masalah deskriptif)

  1. Apakah peristiwa itu di organisir dalam pola-pola organisasi social tertentu

(rumusan masalah assosiatif/hubungan yang akan menemukan pola organisasi dari suatu kejadian )

  1. Apakah peristiwa itu di hubungkan dengan peristiwa lain dalam situasi social yang sama atau situasi social yang lain

 (rumusan masalah assosiatif)

  1. Apakah peristiwa itusama atau berbeda dengan peristuwa lain

 (rumusan masalah komperatif)

  1. Apakah peristiwa itu merupakan peristiwa yang baru, yang belum ada    sebelumnya?

Contoh 2 Rumusan masalah tentang kemiskinan

 

  1. Bagaimanakah gambaran rakyat miskin di situasi social atau setting tertentu?

(rumusan masalah deskriptif)

  1. Apakah makna miskin bagi mereka yang berada dalam situasi dalam social tersebut?

(rumusan masalah deskriptif)

3.   Bagaimana upaya masyarakat tersebut dalam mengatasi kebutuhan sehari – hari?

       4.   Bagaimanakah pola terbentuknya mereka menjadi miskin ?

(rumusan masalah assosiatif   reciprocal)

5.   Apakah pola terbentuknya kemiskinan antara satu keluarga dengan yang lain berbeda                       (masalah komperatif)

       6.  Apakah pola baru yang menyebabkan rakyat menjadi miskin?

Contoh 3 Rumusan masalah tentang manajemen

 

  1. Apakah pemahaman orang-orang yang ada dalam organisasi itu tentang arti dan makna manajemen (masalah deskriptif)
  2. Bagaimana iklim kerja atau suasana kerja pada kerja pada organisasi tersebut? (masalah deskriptif)
  3. Bagaimana pola perencanaan yang di gunakan dalam organisasi itu, baik perencanaan strategis maupun taktis/tahunan (masalah deskriptif)
  4. Bagaimanakah model penempatan orang-orang yang menduduki posisi dalam organisasi itu (masalah deskriptif)
  5. Bagaimanakah model koordinasi, kepemimpinan , dan supervise yang di jalankan dalam organisasi itu? (masalah assosaiatif)
  6. Bagaimanakah pola penyusunan anggaran pendapatan dan belanja organisasi itu? (masalah assosiatif)
  7. Bagaimanakah pola pengawasan dan pengendalian yang dilakukan dalam organisasi tersebut ? (masalah deskriptif)
  8. Apakah kinerja organisasi tersebut berbeda dengan organisasi lain tang sejenis (masalah komperetif)

 

  1. D.   Judul Penelitian Kualitatif

Judul dalam penelitian kualitatif pada umumnya di susun berdasarkan masalah yang telah ditetapkan.Dengan demikian judul penelitiannya harus sudah spesifik dan mencerminkan permasalahan dan variabel yang akan di teliti, judul penelitian kuantitatif digunakan sebagai pegangan peneliti untuk menetapkan variabel yang akan di teliti, teori yang di gunakan, instrument penelitian yang dikembangkan, teknik  analisis data, serta kesimpulan.

Dalam penelitian kualitatif, karena masalah yang dibawa oleh peneliti masih bersifat sementara , dan bersifat menyeluruh, maka judul dalam penelitian kualitatif yang di rumuskan dalam proposal juga masih bersifat sementara, dan akan berkembang setelah memasuki lapangan. Judul laporan penelitian kualitatif yang baik justru berubah, atau mungkin diganti. Judul penelitian kualitatif yang tidak berubah, berati peneliti belum mampu menjelajah secara mendalam terhadap situasi social yang diteliti sehingga belum mampu mengembangkan pemahaman yang luas dan mendalam terhadap situasi social yang di teliti (situasi social = obyek yang di teliti)

 

 

Judul penelitian kualitatif tentu saja tidak harus mencerminkan permasalahan dan variabel yang di teliti, tetapi lebih pada usaha untuk mengungkapkan fenomena dalam situasi social secara luas dan mendalam,serta mengemukakan hipotesis dan teoti. Berikut ini di berikan beberapa contoh judul penelitian kualitatif :

  1. Mengembangkan model Perencanaan yang efektif, di Eropa
  2. Organisasi Pemerintahan yang Efektif dan Efesien pada Era Otonomi Daerah.
  3. Membangun Iklim Kerja yang Kondusif.
  4. Pengembangan Kepemimpinan Berbasis Budaya.
  5. Pengembangan Sistem Pengawasan Efektif
  6. Makna Menjadi Pegawai Negri Sipil bagi Masyarakat
  7. Makna Pembangunan Bagi Masyarakat Miskin
  8. Pngembangan Body language yang menarik Bagi Konsumen Masyarakat Yogyakarta
  9. Strategi Hidup Masyarakat yang Tanah dan Rumahnya Tergusur
  10. Manajemen keluarga Petani dalam Menyekolahkan Anak-anaknya
  11. Model Belajar anak yang berprestasi
  12. Profil Guru yang Efektif Mendidik Anak
  13. Makna Upacara-upacara Tradisional Bagi Masyarakat Tertentu
  14. Pola Perkembangan Karir bagi  Orang-orang Sukses
  15. Makna Gotongroyong Bgi Masyarakat Modern
  16. Mengapa SDM masyarakat Indonesia Tidak Berkualitas?
  17. Mengapa Korupsi sulit Diberantas di Indonesia?
  18. Menelusuri Pola Supply and Demand Narkoba
  19. Makna Sakit Bagi Pasien
  20. Pola Manajemen Pedagang yang Di duga punya’Pesugihan”
  21. Pengembangan Model Pendidikan Berbasis Produksi

 

 

  1. Mengapa Para Pemimpin Indonesia Gagal Membangun Bangsa
  2. Mengadili Koruptir dengan Pendekatan Ilmiah
  3. Kesejahteraan Menurut Orang Miskin
  4. Model Pengembangan SDM Bngsa dalan Upaya Mencapai Keunggulan Komperatif

 

 

 

  1. E.   Teori dalam penelitian Kualitatif

 

Semua penelitian bersifat ilmiah, oleh karena itu semua peneliti harus berbekal teoti. Dalam penelitian kuantitatif, teori yang digunakan harus sudah jelas, sebagai dasar untuk merumuskan hipotesi, dan sebagai referensi untuk menyusun instrument penelitian. Oleh karena itu apa yang akan dipakai.

Dalam penelitian kualitatif, karena permasalahan yang dibawa oleh peneliti masih bersifat sementara, maka teori yang digunakan dalam penyusunan proposal peneliti kualitatif juga masih bersifat sementara, dan akan berkembang setelah peneliti mamasuki lapangan atau konteks social. Dalam kaitannya dengan teori, kalau dalam penelitian kualitatif itu bersifat menguji hipotesis atau teori, sedangkan dalam penelitian kualitatif bersifat menemukan teori.

Dalam penelitian kuantitatif jumlah teori yang digunakan sesuai dengan jumlah variabel yang diteliti, sedangkan dalam penelitian kualitatif yang bersifat holistik, jumlah teori yang harus dimiliki oleh penelitian kualitatif jauh lebih banyak karena harus disesuaikan dengan fenomena yang berkembang di lapangan. Penelitian kualitatif akan lebih profesional kalau menguasai semua teori sehingga wawasannya akan manjadi lebih luas, dan dapat menjadi instrument penelitian yang baik. teori bagi penelitian kualitatif akan berfungsi sebagai bekal untuk bias memahami konteks sosial secara lebih luas dan mendalam.

Walaupun peneliti kulitatif dituntu untuk menguasai teori yang luas dan mendalam , namun dalam melaksanakan penelitian kualitatif, peneliti kualitatif harus mampu melaksanakan teori yang dimiliki tersebut dan tidak digunakan sebagai panduan untuk wawancara, dan observasi. Peneliti kualitatif dituntut dapat menggali data berdasarkan apa yang diucapkan, dipasakan, dilakukan oleh partisipan atau sumber data.

Peneliti kualitatif harus bersifat “ perspektif emic” artinya memperoleh data bukan “sebagaimana seharusnya”,bukan berdasarkan, apa yang terjadi dilapangan, yang dialami, dirasakan, dan difikirkan oleh partisipan atau sumberdata.

 

 

Oleh karena itu peneliti kualitatif harus berbekal teori yang luas sehingga mampu menjadi “human instrument “ yang baik. Dalam hal ini Bongand Gall 1988 menyatakan bahwa “Qualitative research is much moredifficult to do well than quantitative research because the data collected are usually subjective and the main measurement tool for collcted data is the investigator himself” .Peneliti kualitatif lebih sulit bila dibandingkan dengan penelitian kualitatif, karena data yang terkumpul bersifat subjektif dan instrument sebagai alat pengumpul data adalah peneliti itu sendiri.

Untuk dapat menjadi instrument penelitian yang baik, peneliti kualitatif dituntut untuk memiliki wawasan teoritis maupun wawasan yang terkait dengan konteks sosial yang di teliti yang berupa niai, budaya, keyakinan, hukum, adat istiadat yang terjadi dan berkembang pada konteks sosial tersebut. Bila peneliti tidak memiliki wawasan yang luas , maka peneliti akan sulit membuka pertanyaan kepada sumber data, sulit memahami apa yang terjadi, tidak akan dapat melakukan analisis secara induktif terhadap data yang di peroleh.

Sebagai contoh seseorang peneliti bidang kesehatan saja akan mengalami kesulitan. Demikian juga peneliti yang berlatar belakang pendidikan, akan sulit untuk bertanya dan memahami bidang antropologi. Peneliti kualitatif dituntut mampu mengorganisasikan semua teori yang dibaca. Landasan teori yang di tuliskan dalam proposal penelitian lebih berfungsi untuk menunjukan seberapa jauh peneliti walaupun masih permasalahan tersebut bersifat sementara itu. Oleh karena itu landasan teori yang di kemukakan tidak merupakan harga mati, tetapi bersifat sementara. Peneliti kualitatif setuju di tuntut untuk melakukan grounded research, yaitu menemukan teori berdasarkan data yang di peroleh di lapangan atau situasisosial.

 

 

Daftar pustaka

http://psikology09b.blogspot.com/2011/04/perumusan-masalah-dalampenelitian.html 

 

http://kamriantiramli.wordpress.com/2011/05/20/masalah-fokus-judul-penelitian-dan-teori-dalam-penelitian-kualitatif/  

 

http://arisandi.com/perumusan-masalah-dalam-penelitian/  

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s