KOPERASI PRODUKSI


  1. A.    PENDAHULUAN

Kenapa harus koperasi produksi. Kenapa harus sistem dan model. Kenapa koperasi selama ini selalu dipertentangkan/ diperdebatkan sebagai organisasi ekonomi berwatak sosial atau masih relevankah koperasi dinyatakan berwatak sosial. Kenapa sedikit yang membahas koperasi sebagai suatu sistem manufaktur. Apakah diperlukan prinsip identitas ganda pada koperasi produksi, atau tetap menggunakan konsep berwatak sosial, atau kenapa identitas ganda anggota selama ini belum banyak dibahas? Apakah koperasi produksi koperasi bentuk baru dari yang pernah ada? Apakah koperasi produksi suatu kegiatan ekonomi memaksimalkan keuntungan atau Sisa Hasil Usaha (SHU) atau hanya sebagai organisasi sosial yang mengharapkan bantuan orang lain atau tempat meminta sumbangan bagi kegiatan sosial lain? Apakah koperasi dapat dinyatakan sebagai sistem dan kemudian dimodelkan? Apakah koperasi dapat dibedakan sebagai koperasi produsen dan produksi?

 

  1. A.    BEBERAPA PENGERTIAN

Belum banyak literatur yang membahas koperasi produksi secara khusus. Dari beberapa literature yang membahas koperasi yang berkaitan dengan produksi (Haslizen 2001) umumnya mengenai koperasi produktif yaitu: Z. A. Abidin dan Soejitno (1952), Teko (1954), Wiyanto dan Wehner (1973), Raka (1981), Book (1994), Kartasaputra, dkk. (1985), Burhan (1989), Harper (1991), Akpoghor (1993), Moh. Suryanegara (1995), Tim Penyusun (1996), dan Nasution (1999). Pembahasan mereka (Haslizen 2001) umumnya lebih menekankan mengenai pengertian dasar koperasi produktif, produksi dan produsen dan tidak tegasnya beda ketiganya. Pendekatan yang digunakan adalah ekonomi.

Pengertian lain mengenai koperasi produksi, yaitu yang dikemukakan Cockerton and Whyatt (1984), Mellor (1988) dan Oakeshott (1990), yaitu koperasi pekerja, mereka menjelaskan teori dan praktek koperasi pekerja di Eropa dan negara berkembang.

Bila organisasi koperasi yang dibahas, Seetharaman dan Mohana (1975) dalam Haslizen (2001) mengajukan satu model untuk mempelajari efektifitas koperasi sebagai kerangka normatif. Bila sebagai sistem Hanel (1992) menjatakan bahwa koperasi adalah suatu sistem ekonomi digerakan oleh sekelompok orang yang mempunyai tujuan yang sama. Sistem koperasi yang dikemukakan Hanel tersebut sekarang dikenal dengan Organisasi Koperasi Sebagai Sistem Sosio-Ekonomi. Bila berkenaan dengan keanggotaan, Asnawi Hasan (1990c) membahas secara panjang lebar, terutama tentang makna keanggotaan, keanggotaan terbuka, keanggotaan sukarela dan keanggotaan yang bertanggungjawab. Agar koperasi menjadi kokoh, menurut E. D. Damanik (1980) diperlukan/dibutuhkan sendi-sendi dasar koperasi.

Berbeda dengan literatur-literatur di atas, Tim IKOPIN bekerja sama dengan Badan Logistik Indonesia melakukan penelitian pada Koperasi Produsen Tahu Tempe (KOPTI) Jawa Barat (1992). Hasil penelitian menyatakan, bahwa peran yang menonjol dari Kopti adalah pada pengadaan bahan baku kedele, meskipun itu terbatas pada penyaluran dari Bulog. Kopti sangat berpotensi untuk dikembangkan dan menghadapi banyak kendala.

Penelitian lain yang dilakukan Haslizen dkk (1994) pada Koperasi Perajin dan Pengusaha Jeans Parahiyangan (KP2JK) Bandung, hasil penelitian menyatakan bahwa produk yang dihasilkan dipasarkan anggota sendiri-sendiri. Harapan anggota, koperasi berperan dalam pengadaan bahan baku, informasi pasar dan memasarkan, tidak dapat dipenuhi.

Pemikiran berikut ini tentang pengembangan koperasi. Bebrapa orang mengajukan pendapatnya antara lain a) A. Aldy Anwar (1992: 77-78) menyatakan bahwa ada 4 (empat) pendekatan pengembangan yang dapat dilakukan, yaitu: induktif-empiris, deduktif-teoritis, reformatif semi-empiris dan inovatif-kreatif dengan pandangan jauh kedepan, b) Asnawi Hasan (1990) mengemukakan perlunya kode etik usaha koperasi sebagai suatu kerangka dasar yang penting harus dipahami dalam mengembangkan dan menjalankan organisasi koperasi, c) Asnawi Hasan dan Daman Prakash (1990) mengemukanan pentingnya pendidikan pada anggota dalam upaya mengembangkan koperasi, d) Munkner (1997 dan 2000) menyatakan bahwa, penting sekali manajemen dan administrasi koperasi sejak awal harus menjadi tanggungjawab para anggotanya dan orang-orang yang dipilih oleh mereka sendiri, memahami nilai nilai dasar koperasi dan promosi organisasi swadaya koperasi.Bila ditelaah lebih khusus buku, makalah dan hasil penelitian yang dikemukakan di atas, ternyata sedikit lagi orang membahas koperasi produksi. Apakan peninjauan itu: a) dari segi sistem, sistem produksi, manajemen operasional maupun manajemen mutu terpadu. b) dari nilai yang terkandung dalam tatanan, sistem dan proses produksi, dalam upaya peningkatan ekonomi rumah tangga/usaha anggota.

Mengapa demikian ? Penyebabnya antara lain karena:

  1. Pada literatur barat yang dikenal adalah koperasi produktif (Hanel), koperasi pekerja dan koperasi industri (Harper 1991)
  2. Dari pasal 16 dan 19 Undang-Undang R. I. no 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian muncul penafsiran mengenai koperasi produsen (Tim penyusun: 1996), sebelumnya tak pernah ada penafsiran seperti itu terhadap peraturan/undang-undang perkoperasin
  3. Beberapa literatur (Umar Burhan, Wiryanto, Hanel, Harper Ropke dan Raka) koperasi produksi, produsen, produktif dan pekerja dibahas sedikit, bahkan ada yang mengartikan sama. Walaupun ada yang membedakan, perbedaannya tidak tegas, bahkan Abidin menyebut koperasi penghasil sebagai koperasi perindustrian, dan
  4. Perlu diketahui bahwa produktif yang berkembang adalah koperasi produsen, dan hanya berkembang di Indonesia, sedangkan koperasi prouksi masih belum ditemukan litaratur yang membahas konsepnya secara jelas, perlu pemikiran dan gagasan.

 

Terdorong dari pernyataan, pertanyaan dan penyebab yang dikemukakan di atas, kemudian dari hasil studi literatur, rekomendasi beberapa penelitian yang dilakukan peneliti-peneliti IKOPIN dan penelitian mahasiswa (studi kasus “dipilih”) pada koperasi perajin, peternakan, Kopti, dan KUD, diperoleh temuan-temuan, ide-ide dan gagasan-gagasan. Dari temuan, ide dan gagasan itu muncul pemikiran dan gagasan pengembangan konsep koperasi, khususnya koperasi produksi.

Pendekatan yang digunakan dalam perumusan koperasi produksi adalah konsep sistem, pemodelan, sistem produksi, manajemen operasional dan manajemen mutu terpadu. Rumusan yang dihasilkan adalah sistem dan model sket organisasi koperasi produksi, dan beberapa model matematis. Kesemua rumusan yang dihasilkan adalah suatu sumbangan pikiran awal, bertujuan untuk memperkaya pengertian tentang koperasi produksi.

 

  1. B.     JENIS KOPERASI

Bila ditinjau dari sisi kehidupan, menurut Mannan (1993: 44, 54) ada dua hal yang mendasar, yaitu kegiatan konsumsi dan produksi (dari suatu sistem produktif ). Konsumsi adalah permintaan dan produktif adalah penyediaan. Produksi berarti menciptakan secara fisik sesuatu yang tidak ada. Dalam pengertian ahli ekonomi, yang dapat dikerjakan manusia hanyalah membuat barang-barang menjadi lebih berguna, disebut “dihasilkan”. Kegiatan (proses) sistem produktif (mengha-silkan) harus tercermin dari produk yang dihasilkan terhadap prinsip pokok produk yang dikonsumsi.

Berdasarkan pemikiran diatas dan pendapat para pakar koperasi, koperasi dapat dijeniskan dari beberapa hal, sangat tergantung pada sudut pandang. Pada makalah ini penjenisan koperasi dilihat dari dua hal yaitu:

  1.  menurut fungsi koperasi dan
  2. Menurut status anggota.

Bila dirinci berdasarkan fungsi, koperasi dapat dibedakan diantaranya sebagai koperasi pemasaran, pengadaan/pembelian dan kredit. Bila dirinci menurut status anggota dapat dibedakan atas koperasi penghasil (produktif) dan konsumsi.

 

Koperasi penghasil menurut Abidin dan Soejitno (1952: 27) adalah koperasi yang “memajukan penghasilan, dilakukan dengan jalan:

  1. Bersama-sama membeli bahan yang diperlukan
  2. Bersama-sama menghasilkan barang dan
  3. Bersama-sama menjual barang yang telah dihasilkan”.

Menurut Hanel (1992: 48-49) dan Lindenthal (1994: 4-7), koperasi produktif adalah “koperasi yang melakukan hubungan kegiatan produksi bersama, dapat berupa:

  1. Mencakup kegiatan produksi bersama dan konsumsi bersama
  2. Berorientasi pada kegiatan konsumsi bersama dan
  3. Berorientasi pada kegiatan produksi bersama”.

Masalah utama koperasi produktif menurut Akpoghor (1993: 137 – 141) pada keanggotaan, atasan (majikan) dan pekerja, persoalan manejer dan pengawas, manajemen dan hubungan kerja. Peran pengurus menurut Hanel (1992: 49-50) juga menentukan keberhasilan koperasi, terutama dalam mempromosikan anggota. Pada koperasi produksi menurut Mohammad Hatta (1987: 131 ), “titik berat kerja sama terletak pada tunjuk-menunjuki untuk mencapai perbaikan nilai produksi, mempertinggi kualitas barang yang dihasilkan”.

Koperasi produktif (penghasil), bila ditinjau dari tempat kegiatan proses produksi dilakukan, dapat pula dibedakan atas:

  1. kegiatan proses produksi utama pada anggota, disebut Koperasi Produsen dan
  2. kegiatan proses produksi pada perusahaan koperasi disebut Koperasi Produksi.

 

  1. C.    ORGANISASI KOPERASI SEBAGAI SISTEM

Koperasi sebagai suatu organisasi, terdiri dari beberapa unsur yaitu:

  1. Anggota dengan kegiatan ekonominya (rumah tangga),
  2. Kelompok anggota/kelompok koperasi,
  3. Pengurus/pengelola dan
  4. Perusahaan koperasi.

Karena koperasi terdiri dari beberapa unsur, maka koperasi dapat dipandang sebagai sistem, yaitu sistem organisasi koperasi. Hanel (1992: 31) merumuskan organisasi koperasi, dikenal sebagai Organisasi Koperasi Sebagai Sistem Sosio-Ekonomi (The Cooperative Organization As a Sosio-Ecomonics System).

Organisasi Koperasi Sebagai Sistem Sosio Ekonomi yang dirumuskan maka dirumuskan unsur-unsur pembatas sistem koperasi. Batas sistem koprasi produksi, memperlihatkan:

  1.  Ada tiga unsur yang membentuk koperasi yaitu anggota, kelompok anggota/koperasi dan perusahaan koperasi.
  2. Memperlihatkan bahwa pada koperasi terdapat kegiatan ekonomi anggota dan perusahaan koperasi.
  3. Diperlihatkan pula hubungan antara perusahaan koperasi dengan ekonomi anggota dalam bentuk promosi anggota (yaitu mendahulukan kepentingan anggota)
  4. Diperlihatkan pula prinsip identitas ganda (dual identity) anggota.

 

  1. D.    ORGANISASI KOPERASI SEBAGAI SISTEM SOSIO PRODUKSI

Koperasi produksi adalah system terbuka dengan lingkungan luar, berarti terdapat masukan dan keluaran. Masukan adalah factor-faktor produksi, dalam bahasa ekonomi disebut sumberdaya ekonomi. Keluaran adalah kesejahteraan anggota. Dalam bahasa produksi disebut dayaguna produk atau dalam bahasa ekonomi rumah tangga adalah daya beli dan/atau pendapatan anggota.

Karena koperasi dapat dipandang sebagai sistem, maka koperasi menggambarkan:

  1. Kegiatan perusahaan koperasi
  2. Kegiatan anggota (pekerja).

 

Selain itu model menggambarkan promosi anggota, kepemilikan dan unpan balik. Secara keselutuhan disebut model Organisasi Koperasi Sebagai Sistem Sosio-Ekonomi.

Dari model koperasi produksi, dapat pula disusun model partisipasi dan pelayanan, model kesejahteraan anggota. Berikutnya dapat pula dirumuskan masukan-keluaran, efisiensi dan efektifitas koperasi.

 

  1. E.     KEANGGOTAAN, PEKERJA DAN IDENTITAS GANDA

Koperasi beranggotakan orang-orang yang memiliki keahlian tertentu. Bila ditinjau dari kegiatan produksi, kegiatan anggota adalah sebagai pekerja pada stasiun kerja atau unit kerja. Bila ditinjau dari keutamaan anggota, kegiatan koperasi adalah mempromosikan anggota. Bila ditinjau dari kepemilikan maka koperasi adalah milik anggota.

 

  1. F.     SENDI DASAR KOPERASI PRODUKSI

Berangkat dari, prinsip identitas ganda dan promosi anggota, dirumuskan sendi-sendi dasar koperasi produksi. Sendi-sendi dasar inilah yang menjelaskan dan mempertegas persamaan dan perbedaan antara koperasi produksi dengan koperasi jenis lain atau perusahaan pada umumnya, terutama tentang keanggotaan dan peran anggota dalam kegiatan menghasilkan produk. Sendi dasar ini pulalah yang membentuk budaya berkoperasi.

Pada koperasi produksi paling tidak ada 8 sendi dasar yang harus diterapkan:

  1. Keanggotaan terpilih
  2. Spesialisasi dalam tugas dan produk yang dihasilkan
  3. Satu orang satu suara
  4. Kekuasaan tertinggi pada rapat anggota
  5. Organisasi ekonomi berwatak sosial
  6. Manajemen bertingkat
  7. Perusahaan koperasi bermotif maksimalisasi laba, 8) Menghindari resiko yang luar biasa.

 

  1. G.    MANAJEMEN OPERASI/OPERASIONAL

Karena koperasi adalah koperasi produksi, maka Manajemen Operasi/Operasional dapat diterapkan. Manajemen Operasional itu antara lain:

  1. Masukan (input) dan keluaran (output),
  2. Efisiensi dan efektifitas,
  3. Pengendalian Mutu, Manajemen Mutu dan ISO,
  4. Tataletak Peralatan dan Mesin,
  5. Waktu Baku dan Proses Produksi, Dll.

 

  1. H.    EFISIENSI DAN EFEKTIFITAS

Banyak ukuran yang dapat dijadikan sebagai indikasi kemajuan suatu kegiatan organisasi. Karena pembahasan berikut ini mengenai sistem, maka yang digunakan sebagai ukuran adalah efisiensi, efektifitas dan produktivitas.

Efisiensi menurut Matthias Aroef (1986: 58) dapat dimengerti sebagai kehematan penggunaan sumber-sumber daya dalam suatu kegiatan organisasi. Tambah hemat suatu organisasi menggunakan sumber-sumber, semakin efisienlah organisasi itu. “Efisiensi dapat pula dinyatakan dalam bentuk perbandingan waktu baku (standar) terhadap waktu aktual” (Hradesky, 1988: 46-48). Kegiatan menggunakan sumber-sumber tadi sebanyak mungkin, berarti pekerjaan dilakukan dengan efektifitas yang tinggi. Perbandingan efektifitas dengan efesiensi memberikan pengertian baru yaitu produktifitas. Bentuk dari produktifitas (yang paling sederhana) adalah perbandingan keluaran dengan masukan.

Menurut Chapra (1992: 3–8) efisiensi tidak bisa didefinisikan tan-pa dimasukkan penyaringan akhlak/moral (“efficiency can not even be definited without resort to a moral filter”) dan produktifitas adalah per-bandingan antara kegunaan keluaran dengan total keluaran atau kegu-naan keluaran dengan masukan.

 

  1. I.       MODEL KOPERASI PRODUKSI DI LAPANGAN

Hasil pengatan di lapangan di Jawa Barat, model organisasi koperasi sebagai mana yang dimodelkan, yaitu model Organisasi Koperasi Sebagai Sistem Sosio-Produksi, ternyata tidak ada ditemui yang sesuai dengan model.

 

 

  1. J.      PENUTUP

Dari paparan diatas, pembaca telah dapat gambaran mengenai Koperasi Produksi. Silakan buat koperasi produksi, seningga dapat menyerap tenaga kerja baik di perkotaan maupun di pedesaan. Selamat mencoba, satu saat adakan pertemuan (seminar) tentang kegiatan pembentukan dan pelaksanaan kegiatan koperasi Produksi.

 

 

 

Daftar Pustakaan

Aldy Anwar, (1992). “Ethos Koperasi Pemukiman Tepat Nilai”. Infokop (11) IX: 75-90. (Mei).

Akpoghar, Peter S., (1993), Selected Essays on Cooperative Theory and Practice, Marburg: Marburg Consult fur Selbsthilfetorderung.

Abidin. Z. A. dan Soejitno, (1952). Penuntun Koperasi. Jakarta: Jajasan Pendidikan Masyarakat.

Asnawi Hasan, (1990c). Pokok-Pokok Pikiran Tentang Keanggotaan Koperasi. Makalah disampaikan pada Seminar Perkoperasian yang diselengarakan oleh tim Nasional Pengkajian Koperasi. Jakarta: Departemen Koperasi (11 Januari).

Book, Sven Ake., (1994). Nilai-Nilai Koperasi Dalam Era Globalisasi. (alih bahasa Djabaruddin Djohan). Jakarta: KJAN.

Chapra, M. Umer, (1992). Islam and Economic Challenge. (Islam Economics Series No 17). Nairobi: The Islamics Foundation.

Cockerton, Peter and Anna Whyatt., (1984). The Workers Co-operative Handbook, London: ICOM.

Haslizen Hoesin, (2001). Model Koperasi Produsen dan Produksi. Makalah pada “Seminar Pengkajian Dosen IKOPIN”, diseleggarakan oleh P3EM–IKOPIN (Maret).

Hradesky, John L. (1988). Productivity and Quality Improvement: A PracticalGuide to implementing Statistical ProcessCotrol. Singapore: Mc Graw Hill, Book Co.

Lindenthal, Roland, (1994). Cooperatives and Employment in Developing Countries. Geneva: CD3/E, ILO.

Hatta, Mohammad (1987). Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun. Jakarta: Pt. Inti Idayu Pres.

Suryanegara, Moh. Yahya (1996). Perlukah Pendidikan Perkoperasian Seperti yang Dilaksanakan IKOPIN Dalam Usaha Menghilangkan Kelemahan Koperasi da-lam Bidang Sumber Daya Manusia. Makalah. Tidak ada catatan di mana di-sampaikan.

Lindenthal, Roland, (1994). Cooperatives and Employment in Developing Countries. Geneva: CD3/E, ILO.

Matthias Aroef, (1986). Pengukuran Produktivitas Kebutuhan Mendesak di Indone-sia. Prisma. 11. LP3ES : November.

Mannan, M. Abdul, (1993). Teori dan Praktek Ekonomi Islam. (Alih bahasa oleh M. Nastangin). Yokyakarta: Dana Bakti Wakaf.

Mellor, Mary, at all. (1984). Worker Cooperatives in Theori and Practice. Philadelphia: Open University Press.

Munkner, Hans H., (1997). Masa depan Koperasi, (alih bahasa Djabaruddin Djohan). Jakarta: Dekopin.

Peneliti Ikopin. (1992). Survey tentang Potensi & Kendala Kopti Dalam Upaya Pembinaan dan Pengembangannya di Jawa Barat, (laporan penelitian). Ikopin. Jatinangor.

Tim Penyusun, (1996). Memahami Seluk Beluk Perkoperasian Dalam Teori dan Praktek. Jakarta: TNP3K, Dept. Koperasi dan PPK.

Wiryanto Yomo dan Gunter Wehner., (1973). Membangun Masyarakat. Bandung: Alumni.

MASALAH, FOKUS, JUDUL, DAN TEORI DALAM PENELITIAN KUALITATIF


 

 

A.   Masalah

 

Setiap penelitian baik penelitian kuantitatif maupun kualitatif selalu berangkat dari masalah. Namun terdapat perbedaan yang mendasar antara “masalah “ dalam penelitian kualitatif “masalah “ yang akan di pecahkan melalui penelitian harus jelas, spestik, yang di bawa oleh peneliti masih remang-remang, bahkan gelap kompleks dan dinamis. Oleh karena itu, “masalah “ dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara. Tentative dan akan berkembang atau berganti setelah peneliti berada di lapangan.

Menurut Strauss dan Corbin (2003) “Penelitian kualitatif” dimaksud sebagai jenis  penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya. Setiap penelitian baik penelitian kuantitatif maupun kualitatif selalu berangkat dari masalah.

Masalah dalam penelitian kualitatif  bertumpu pada suatu fokus. Pada dasarnya penentuan masalah menurut Lincoln & Guba (1985 : 226) bergantung pada paradigma apakah yang dianut oleh seorang peneliti. Dalam penelitian kualitatif, akan terjadi tiga kemungkinan terhadap “masalah “ yang di bawa oleh peneliti dalam penelitian :

  1. Masalah yang di bawa oleh peneliti tetap, sehingga sejak awal sanpai akhir penelitian sama.
  2. Masalah yang di bawa peneliti setelah memasuki penelitian berkembang yaitu memperluas atau memperdalam masalah yang telah di siapkan. Dengan demikian tidak terlalu banyak perubahan, sehingga judul penelitian cukup di sempurnakan.
  3. Masalah ketidaksesuaian, Dengan demikian judul proposal dengan judul penelitian tidak sama dengan judulnya diganti. Dalam institusi tertentu, judul yang diganti ini sering mengalami kesulitas administrasi.

 Oleh karena itu institusi yang menangani penelitian kualitatif, harus mau dan mampu menyesuaikan dengan karakteristik masalah kualitatif ini.


 

Masalah adalah suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antara dua faktor atau lebih yang menghasilkan situasi yang menimbulkan tanda tanya dan dengan sendirinya memerlukan upaya untuk mencari sesuatu jawaban (Guba, 1978 : 44; Linclon dan Guba, 1985 : 218 ; dan GubaLinclon, 1981 : 88). Atau masalah adalah penyimpangan antara yang seharusnya dengan yang terjadi. Tujuan suatu penelitian ialah upaya untuk memecahkan masalah. Perumusan masalah dilakukan dengan jalan mengumpulkan sejumlah pengetahuan yang memadai dan yang mengarah pada upaya untuk memahami atau menjelaskan factor–factor yang berkaitan yang ada dalam masalah tersebut. Jadi, proses tersebut berupa proses dialektik yang berperan sebagai proposisi terikat dan antithesis yang membentuk masalah berdasarkan usaha sintesis tertentu.

Dua maksud yang  ingin dicapai peneliti dalam merumuskan masalah penelitian :

 

  1. Penetapan focus dapat membatasi study. Jadi, dalam hal ini fokus akan membatasi bidang inkuiri.
  2. Penetapan focus itu berfungsi untuk memenuhi kriteria inklusi – ekslusi atau kriteria masuk  – keluar suatu informasi yang baru diperoleh dilapangan.

 

Penetapan focus atau masalah dalam penelitian kualitatif  bagaimana pun akhirnya akan dipastikan sewaktu peneliti sudah berada di arena atau lapangan penelitian. Dengan demikian kepastian tentang fokus dan masalah itu yang menentukan adalah keadaan di lapangan. Perumusan masalah yang bertumpu pada fokus dalam penelitian kualitatif bersifat tentatif artinya penyempurnaan rumusan fokus atau masalah itu masih tetap dilakukan sewaktu penelitian sudah berada di latar penelitan. Pembatasan masalah merupakan tahap yang sangat menentukan dalam penelitian kualitatif, walaupun sifatnya masih tentatif, sehingga dapat ditarik kesimpulan penting yaitu:

 

  1. Pertama,  suatu penelitian tidak dimulai dari sesuatu yang vakum (kosong ).
  2. Kedua, focus pada dasarnya adalah masalah pokok yang bersumber dari pengalaman peneliti atau melalui pengetahuan yang diperolehnya melalui kepustakaan ilmiah ataupun kepustakaan lainnya.
  3. Ketiga, tujuan penelitian pada dasarnya adalah memecahkan masalah yang telah dirumuskan.
  4. Keempat, masalah yang bertumpu pada focus yang ditetapkan bersifat tentatif, dapat diubah sesuai dengan situasi latar penelitian

 

Model Perumusan Masalah

 

Salah satu teknik yang sering digunakan dalam proses penelitian adalah membuat model obyek yang akan diselidiki. Karena model itu merupakan tiruan kenyataan, maka ia harus dapat menggambarkan berbagai aspek yang diselidiki. Salah satu alasan utama pengembangan model adalah untuk lebih memudahkan pencarian variabel-variabel yang penting dan berkaitan dengan penelitian yang dilakukan.

Menemukan Sumber – Sumber Masalah Penelitian

  1. Kriteria Analisis

–          Rumusan masalah tersebut telah menghubungkan dua atau lebih halatau factor (defenisi masalah)

–          Rumusan masalah itu dipisahkan dari tujuan penelitian

–          Uraian dalam bentuk deskriptif saja atau deskriptif disertai pertanyaan penelitian

–          Uraian masalah dipaparkan secara khusus sehingga telah dapat memenuhi criteria inklusi-ekslusi.

–          Hipotesis kerja dinyatakan secara eksplisit dan berkaitan dengan masalah penellitian

–          Pembatasan study dinyatakan dengan istilah fokus.

 

Sumber masalah biasanya dapat diangkat menjadi topik dari sebuah penelitian, ada beberapa sumber masalah, antara lain :

  • Kehidupan sehari-hari

Berasal dari hal-hal yang menjadi kebiasaan yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.

  • Masalah praktis

Masalah yang harus diselesaikan yang cepat, sehingga masalah tesebut tidak berlarut-larut menjadi masalah.

  • Hasil penelitian sebelumnya

Masalah yang peneliti rasa tidak tuntas diteliti oleh penelitian sebelumnya, seperti penelitian pada jurnal, skripsi, tesis, disertasi ataupun penelitian lainnya

  • Teori

Bedasarkan teori yang telah ada dan diakui. Biasanya peneliti ingin mencari hubungan antara teori-teori tersebut untuk mendapatkan teori baru.

Prinsip-prinsip Perumusan Masalah

 

  1. Prinsip yang Berkaitan dengan Teori dari Dasar

Peneliti hendaknya senantiasa menyadari bahwa perumusan masalah dalam penelitiannya didasarkan atas upaya menemukan teori dari dasar sebagai acuan utama. Perumusan masalah adalah sekadar arahan pembimbing atau acuan pada usaha untuk menemukan masalah yang sebenarnya. Masalah sesungguhnya baru akan dapat dirumuskan apabila peneliti sudah berada dan mulai, bahkan sedang mengumpulkan data.

  1. Prinsip yang Berkaitan dengan Maksud Perumusan Masalah

Perumusan masalah di sini bermaksud menunjang upaya penemuan dan penyusunan teori substantif, yaitu teori yang bersumber dari data.

–          Peneliti merumuskan masalah dengan maksud menguji suatu teori dengan menyadari segala macam kekurangan akibat tindakannya.

–          Penekanan pada suatu usaha penemuan dapat membawa peneliti untuk  juga dapat menguji suatu teori yang sedang berlaku.

–          Masalah yang dirumuskan dan mungkin disempurnakan akan berfungsi sebagai patokan untuk keperluan mengadakan analisis datadan kemudian menjadi hipotesis kerja.

  1. Prinsip Hubungan Faktor

Faktor-faktor di sini dapat berupa konsep, peristiwa, pengalaman, atau fenomena. Ada 3 aturan tertentu yang perlu dipertimbangkan oleh peneliti pada waktu merumuskan masalah tersebut :

–          Adanya dua atau lebih faktor

–          Faktor – factor itu dihubungkan dalam suatu hubungan yang logis atau bermakna

–          Hasil pekerjaan tadi menghubungkan suatu keadaan yang menimbulkan tanda tanya atau hal yang membingungkan, jadi suatu keadaan bersifat tanda tanya, yang memerlukan pemecahan atau upaya untuk menjawabnya. Jadi, walaupun ada factor – factor,  jika tidak dikaitkan satu dengan lainnya secara bermakna, hal itu berarti belum memenuhi persyaratan.

  1. Fokus sebagai wahana untuk membatasi study

Peneliti kualitatif bersifat terbuka artinya tidak mengharuskan peneliti menganut suatu orientasi teori atau paradigma tertentu. Peneliti boleh memilih paradigma ilmiah, alamiah ataupun paradigma tengah. Perumusan masalah bagi peneliti akan mengarahkan dan membimbing pada situasi lapangan bagaimanakah yang akan dipillih dari berbagai latar yang sangat banyak tersedia.

  1. Prinsip yang berkaitan dengan inklusi – ekslusi

Perumusan focus yang baik yang dilakukan sebelum peneliti ke lapangan dan yang mungkin disempurnakan pada awal ia terjun ke lapangan akan membatasi peneliti guna memilih mana data yang relevandan mana yang tidak. Data yang relevan dimasukkan dan dianalisis sedangkan yang tidak relevan dengan masalah dikeluarkan.

Masalah yang dirumuskan secara jelas dan tegas akan merupakan alat yang ampuh untuk memilih data yang relevan.

 

  1. Prinsip yang berkaitan dengan bentuk dan cara perumusan masalah

Ada tiga bentuk perumusan masalah :

–          Secara diskusi, cara penyajiannya adalah dalam bentuk pernyataan secara deskriptif namun perlu diikuti dengan pertanyaan – pertanyaan penelitian

–          Secara proposional, secara langsung menghubungkan factor – factor dalam hubungan logis dan bermakna

–                    Secara gabungan, terlebih dahulu disajikan dalam bentuk diskusi kemudian ditegaskan lagi dalam bentuk proposisional.

  1. Prinsip sehubungan dengan posisis perumusan masalah

Yang dimaksud dengan posisi disini adalah kedudukan untuk perumusan masalah diantara unsur-unsur peneliti lainnya. Unsur – unsur penelitian lainnya yang erat kaitanya dengan rumusan masalah ialah latar belakang masalah, tujuan, dan acuan teori dan metode penelitian :

–          Prinsip posisi menghendaki agar rumusan latar belakang penelitian didahulukan.

–          Prinsip lainnya ialah hendaknya rumusan masalah disusun terlebih dahulu

–          Prinsip berikutnya menghendaki agar sebaiknya rumusan masalah dipisahkan dari rumus dan tujuan

–          Prinsip terakhir menghendaki agar seharusnya rumusan masalah dipisahkan dari metode penelitian.

  1. Prinsip yang berkaitan dengan hasil penelaahan kepustakaan

Pada dasarnya perumusan masalah itu tidak bisa dipisahkan dari hasil penelaahan kepustakaan yang berkaitan, karena diperlukan untuk lebih mempertajam perumusan masalah itu, serta mengarahkan dan membimbing peneliti untuk membentuk kategori substantif.

  1. Prinsip yang berkaitan dengan penggunaan bahasa

Perumusan masalah dilakukan pada waktu mengajukan usulan penelitian dan diulangi kembali pada waktu menulis laporan. Pada waktu menulis laporan atau artikel tentang hasil penelitian, ketika merumuskan masalah, hendaknya peneliti memmpertimbangkan ragam pembacanya, sehingga rumusan masalah yang diajukan dapat disesuaikan dengan tingkat kemampuan menyimak para pembacanya.

Dengan kata lain, penulisan perumusan masalah harus disesuaikan dengan tingkat keumumannya para pembaca.

Langkah – langkah Perumusan Masalah

  1. Tentukan fokus penelitian
  2. Cari berbagai kemungkinan factor yang ada kaitan denganfocus tersebut yang dalam hal    ini dinamakan subfokus
  3. Dari antara factor – factor yang terkait adakan pengkajian mana yang sangat menarik    untuk ditelaah, kemudian tetapkan mana yang dipilih
  4. Kaitkan secara logis factor –factor subfokus yang dipilih dengan focus   penelitian.

 

  1. B.   Fokus

Salah satu asumsi tentang gejala dalam penelitian kuantitatif adalah bahwa gejala dari suatu objek itu sifat tunggal dan parsial. Dengan demikian berdasarkan gejala tersebut peneliti kuantitatif dapat menemukan variable-variabel yang akan di teliti. Dalam pandangan penelitian kualitatif, gejala itubersifat holistic (Menyeluruh tidak dapat di pisah-pisahkan), sehingga peneliti kualitatif tidak akan menetapkan penelitiannya hanya berdasarkan fariabel penelitian , tetapi keseluruhan situasi social yang di teliti yang meliputi aspek tempat (plase), peleku (actor) dan aktivitas (activity) tang berinteraksi secara sinergis.

Karena terlalu luasnya masalah, maka dalam rangka penelitian kuantitatif, peneliti akan membatasi penelitian dalam satu atau lebih variable. Dengan demikian dalam penelitian kuantitatif ada yang di sebut batasan masalah. Batasan masalah dalam penelitian kualitatif disebut dengan focus, yang berisi pokok masalah yang masih bersifat umum.

Pembatasan dalam penelitian kualitatif lebih didasarkan pada tingkat kepentingan, urgensi feabilitas masalah yang akan di pecahkan selain juga factor keterbatasan tenaga , dana dan waktu. Suatu masalah di katakan penting apabila masalah tersebut tidak di pecahkan melalui penelitian, maka akan semakin menimbulkan masalah baru. Masalah dikatakan urgen (mendesak) apabila masalah tersebut tidak segera di pecahkan melelui penelitian, maka akan semakin kehilangan berbagai kesempatan untuk mengatasi.

Masalah dikatakan fasible apabila terdapat berbagai sumber daya untuk memecahkan masalah tersebut. Untuk menilai masalah tersebut penting, urgen, dan feasible, maka perlu dilakukan melalui analisa masalah.

Dalam mempertajam penelitian,  peneliti kualitatif menentapkan focus. Spradley menyatakan bahwa “A focused refer to single cultural domain or afew related dominainsmaksudnya adalah bahwa, focus itu merupakan domain yang terkait dari situasi social. Dalam pemelitian kualitatif, penentuan focus dalam proposal lebih di dasarkan pada tingkat kebaruan informasi yang akan di peroleh dari situasi social (lapangan).

Kebaruan informasi itu biasanya berupa upaya untuk memahami secara lebih luas dan mendalam tentang situasi social, tetapi juga ada keinginan untuk menghasilkan hipotesis atau ilmu baru dari situasi social yang di teliti. Fokus yang sebenarnya dalam penelitian kualitatif di peroleh setelah peneliti melakukan grand tour observation dan grand tour question atau yang disebut dengan penjelajahan umun. Dari penjelajahan umum ini peneliti akan memperoleh gambaran umum menyeluruh yang masih pada tahap permukaan tentang situasi social.

Untuk dapat memehami secarah lebih luas dan mendalam, Maka diperlukan pemilihan fokus penelitian. Spladley dalam sanapiah faisal (1988) mengemukakan empat alternative untuk menetapkan fokus yaitu :

  1. Menetapkan fokus pada permasalahan yang disarankan oleh informal
  2. Menetapkan fokus berdasarkan domain-domain tertentu organizing domain
  3. Menetapkan fokus yang memiliki nilai temuan untuk pengembangan iptek
  4. Menetapkan fokus berdasarkan permasalahan yang terkait dengan teori-teori yang telah ada
  5. C.   Bentuk Rumusan Masalah

Berdasarkan level of explanation , suatu gejala, maka secara umum terdapat tiga bentuk rumusan masalah, yaitu rumusan masalah deskriptif, komparatif dan assosiatif :

–          Rumusan masalah deskriptif adalah suatu rumusan masalah yangmemandu peneliti untuk mengekslorasi dan atau memotret situasisocial yang akan diteliti secara menyeluruh, luas dan mendalam.

–          Rumusan masalah komparatif adalah rumusan masalah yang memandu peneliti untuk membandingkan antara konteks social atau domain satu dibandingkan dengan yang lain.

–          Rumusan masalah assosiatif atau hubungan adalah rumusan masalah yang memandu peneliti untuk mengkonstruksi hubungan antara situasi social atau domain satu dengan yang lainnya.

Rumusan masalah assosiatif di bagi menjadi tiga yaitu :

a). hubungan simetris,

b).kausal dan

c).reciprocal atau interaktif

Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab akibat. Selanjutnya hubungan reciprocal adalah hubungan yang saling mempengaruhi. Dalam penelitian kualitatif hubungan yang diamati atau ditemukan adalah hubungan yang bersifat reciprocal atau interaktif.

 

Dalam penelitian kuantitatif, ketiga rumusan masalah tersebut terkait dengan variable penelitian, sehingga rumusan masalah peneleti sangat spesifik, dan akan digunakan sebagai panduan bagi peneliti untuk menentukan landasan teori, hipotesis, insrumen, dan teknik analisis data.

Dalam penelitian kualitatif, karena masalah yang dibawa oleh peneliti masih bersifat sementara , dan bersifat (Menyeluruh), maka judul dalam penelitian kualitatif yang dirumuskan dalam proposal juga masih bersifat sementara, dan akan berkembang setelah memasuki lapangan. Judul laporan penelitian kualitatif yang baik justru berubah, atau mungkin diganti. Judul penelitian kualitatif yang tidak berubah, berati peneliti belum mampu menjelajah secara mendalam terhadap situasi social yang di telitih sehingga belum mampu mengembangkan pemahaman yang luas dan mendalam terhadap situasi social yang di teliti (situasi social= obyek yang di teliti)

Judul penelitian kualitatif tentu saja tidak harus mencerminkan permasalahan dan variabel yang di teliti, tetapi lebih pada usaha untuk mengungkapkan fenomena dalam situasi social secara luas dan mendalam, serta mengemukakan hipotesis dan teoti.

 

 

Berikut ini di berikan contoh rumusan masalah dalam proposal penelitian kualitatif tentang suatu peristiwa.

  1.  Apakah peristiwa yang terjadi dalam situasi social atau setting tertentu?

(Rumusan masalah deskriptif)

  1.  Apakah makna peristiwa itu bagi orang-orang yang ada pada setting itu?

 (rumusan masalah deskriptif)

  1. Apakah peristiwa itu di organisir dalam pola-pola organisasi social tertentu

(rumusan masalah assosiatif/hubungan yang akan menemukan pola organisasi dari suatu kejadian )

  1. Apakah peristiwa itu di hubungkan dengan peristiwa lain dalam situasi social yang sama atau situasi social yang lain

 (rumusan masalah assosiatif)

  1. Apakah peristiwa itusama atau berbeda dengan peristuwa lain

 (rumusan masalah komperatif)

  1. Apakah peristiwa itu merupakan peristiwa yang baru, yang belum ada    sebelumnya?

Contoh 2 Rumusan masalah tentang kemiskinan

 

  1. Bagaimanakah gambaran rakyat miskin di situasi social atau setting tertentu?

(rumusan masalah deskriptif)

  1. Apakah makna miskin bagi mereka yang berada dalam situasi dalam social tersebut?

(rumusan masalah deskriptif)

3.   Bagaimana upaya masyarakat tersebut dalam mengatasi kebutuhan sehari – hari?

       4.   Bagaimanakah pola terbentuknya mereka menjadi miskin ?

(rumusan masalah assosiatif   reciprocal)

5.   Apakah pola terbentuknya kemiskinan antara satu keluarga dengan yang lain berbeda                       (masalah komperatif)

       6.  Apakah pola baru yang menyebabkan rakyat menjadi miskin?

Contoh 3 Rumusan masalah tentang manajemen

 

  1. Apakah pemahaman orang-orang yang ada dalam organisasi itu tentang arti dan makna manajemen (masalah deskriptif)
  2. Bagaimana iklim kerja atau suasana kerja pada kerja pada organisasi tersebut? (masalah deskriptif)
  3. Bagaimana pola perencanaan yang di gunakan dalam organisasi itu, baik perencanaan strategis maupun taktis/tahunan (masalah deskriptif)
  4. Bagaimanakah model penempatan orang-orang yang menduduki posisi dalam organisasi itu (masalah deskriptif)
  5. Bagaimanakah model koordinasi, kepemimpinan , dan supervise yang di jalankan dalam organisasi itu? (masalah assosaiatif)
  6. Bagaimanakah pola penyusunan anggaran pendapatan dan belanja organisasi itu? (masalah assosiatif)
  7. Bagaimanakah pola pengawasan dan pengendalian yang dilakukan dalam organisasi tersebut ? (masalah deskriptif)
  8. Apakah kinerja organisasi tersebut berbeda dengan organisasi lain tang sejenis (masalah komperetif)

 

  1. D.   Judul Penelitian Kualitatif

Judul dalam penelitian kualitatif pada umumnya di susun berdasarkan masalah yang telah ditetapkan.Dengan demikian judul penelitiannya harus sudah spesifik dan mencerminkan permasalahan dan variabel yang akan di teliti, judul penelitian kuantitatif digunakan sebagai pegangan peneliti untuk menetapkan variabel yang akan di teliti, teori yang di gunakan, instrument penelitian yang dikembangkan, teknik  analisis data, serta kesimpulan.

Dalam penelitian kualitatif, karena masalah yang dibawa oleh peneliti masih bersifat sementara , dan bersifat menyeluruh, maka judul dalam penelitian kualitatif yang di rumuskan dalam proposal juga masih bersifat sementara, dan akan berkembang setelah memasuki lapangan. Judul laporan penelitian kualitatif yang baik justru berubah, atau mungkin diganti. Judul penelitian kualitatif yang tidak berubah, berati peneliti belum mampu menjelajah secara mendalam terhadap situasi social yang diteliti sehingga belum mampu mengembangkan pemahaman yang luas dan mendalam terhadap situasi social yang di teliti (situasi social = obyek yang di teliti)

 

 

Judul penelitian kualitatif tentu saja tidak harus mencerminkan permasalahan dan variabel yang di teliti, tetapi lebih pada usaha untuk mengungkapkan fenomena dalam situasi social secara luas dan mendalam,serta mengemukakan hipotesis dan teoti. Berikut ini di berikan beberapa contoh judul penelitian kualitatif :

  1. Mengembangkan model Perencanaan yang efektif, di Eropa
  2. Organisasi Pemerintahan yang Efektif dan Efesien pada Era Otonomi Daerah.
  3. Membangun Iklim Kerja yang Kondusif.
  4. Pengembangan Kepemimpinan Berbasis Budaya.
  5. Pengembangan Sistem Pengawasan Efektif
  6. Makna Menjadi Pegawai Negri Sipil bagi Masyarakat
  7. Makna Pembangunan Bagi Masyarakat Miskin
  8. Pngembangan Body language yang menarik Bagi Konsumen Masyarakat Yogyakarta
  9. Strategi Hidup Masyarakat yang Tanah dan Rumahnya Tergusur
  10. Manajemen keluarga Petani dalam Menyekolahkan Anak-anaknya
  11. Model Belajar anak yang berprestasi
  12. Profil Guru yang Efektif Mendidik Anak
  13. Makna Upacara-upacara Tradisional Bagi Masyarakat Tertentu
  14. Pola Perkembangan Karir bagi  Orang-orang Sukses
  15. Makna Gotongroyong Bgi Masyarakat Modern
  16. Mengapa SDM masyarakat Indonesia Tidak Berkualitas?
  17. Mengapa Korupsi sulit Diberantas di Indonesia?
  18. Menelusuri Pola Supply and Demand Narkoba
  19. Makna Sakit Bagi Pasien
  20. Pola Manajemen Pedagang yang Di duga punya’Pesugihan”
  21. Pengembangan Model Pendidikan Berbasis Produksi

 

 

  1. Mengapa Para Pemimpin Indonesia Gagal Membangun Bangsa
  2. Mengadili Koruptir dengan Pendekatan Ilmiah
  3. Kesejahteraan Menurut Orang Miskin
  4. Model Pengembangan SDM Bngsa dalan Upaya Mencapai Keunggulan Komperatif

 

 

 

  1. E.   Teori dalam penelitian Kualitatif

 

Semua penelitian bersifat ilmiah, oleh karena itu semua peneliti harus berbekal teoti. Dalam penelitian kuantitatif, teori yang digunakan harus sudah jelas, sebagai dasar untuk merumuskan hipotesi, dan sebagai referensi untuk menyusun instrument penelitian. Oleh karena itu apa yang akan dipakai.

Dalam penelitian kualitatif, karena permasalahan yang dibawa oleh peneliti masih bersifat sementara, maka teori yang digunakan dalam penyusunan proposal peneliti kualitatif juga masih bersifat sementara, dan akan berkembang setelah peneliti mamasuki lapangan atau konteks social. Dalam kaitannya dengan teori, kalau dalam penelitian kualitatif itu bersifat menguji hipotesis atau teori, sedangkan dalam penelitian kualitatif bersifat menemukan teori.

Dalam penelitian kuantitatif jumlah teori yang digunakan sesuai dengan jumlah variabel yang diteliti, sedangkan dalam penelitian kualitatif yang bersifat holistik, jumlah teori yang harus dimiliki oleh penelitian kualitatif jauh lebih banyak karena harus disesuaikan dengan fenomena yang berkembang di lapangan. Penelitian kualitatif akan lebih profesional kalau menguasai semua teori sehingga wawasannya akan manjadi lebih luas, dan dapat menjadi instrument penelitian yang baik. teori bagi penelitian kualitatif akan berfungsi sebagai bekal untuk bias memahami konteks sosial secara lebih luas dan mendalam.

Walaupun peneliti kulitatif dituntu untuk menguasai teori yang luas dan mendalam , namun dalam melaksanakan penelitian kualitatif, peneliti kualitatif harus mampu melaksanakan teori yang dimiliki tersebut dan tidak digunakan sebagai panduan untuk wawancara, dan observasi. Peneliti kualitatif dituntut dapat menggali data berdasarkan apa yang diucapkan, dipasakan, dilakukan oleh partisipan atau sumber data.

Peneliti kualitatif harus bersifat “ perspektif emic” artinya memperoleh data bukan “sebagaimana seharusnya”,bukan berdasarkan, apa yang terjadi dilapangan, yang dialami, dirasakan, dan difikirkan oleh partisipan atau sumberdata.

 

 

Oleh karena itu peneliti kualitatif harus berbekal teori yang luas sehingga mampu menjadi “human instrument “ yang baik. Dalam hal ini Bongand Gall 1988 menyatakan bahwa “Qualitative research is much moredifficult to do well than quantitative research because the data collected are usually subjective and the main measurement tool for collcted data is the investigator himself” .Peneliti kualitatif lebih sulit bila dibandingkan dengan penelitian kualitatif, karena data yang terkumpul bersifat subjektif dan instrument sebagai alat pengumpul data adalah peneliti itu sendiri.

Untuk dapat menjadi instrument penelitian yang baik, peneliti kualitatif dituntut untuk memiliki wawasan teoritis maupun wawasan yang terkait dengan konteks sosial yang di teliti yang berupa niai, budaya, keyakinan, hukum, adat istiadat yang terjadi dan berkembang pada konteks sosial tersebut. Bila peneliti tidak memiliki wawasan yang luas , maka peneliti akan sulit membuka pertanyaan kepada sumber data, sulit memahami apa yang terjadi, tidak akan dapat melakukan analisis secara induktif terhadap data yang di peroleh.

Sebagai contoh seseorang peneliti bidang kesehatan saja akan mengalami kesulitan. Demikian juga peneliti yang berlatar belakang pendidikan, akan sulit untuk bertanya dan memahami bidang antropologi. Peneliti kualitatif dituntut mampu mengorganisasikan semua teori yang dibaca. Landasan teori yang di tuliskan dalam proposal penelitian lebih berfungsi untuk menunjukan seberapa jauh peneliti walaupun masih permasalahan tersebut bersifat sementara itu. Oleh karena itu landasan teori yang di kemukakan tidak merupakan harga mati, tetapi bersifat sementara. Peneliti kualitatif setuju di tuntut untuk melakukan grounded research, yaitu menemukan teori berdasarkan data yang di peroleh di lapangan atau situasisosial.

 

 

Daftar pustaka

http://psikology09b.blogspot.com/2011/04/perumusan-masalah-dalampenelitian.html 

 

http://kamriantiramli.wordpress.com/2011/05/20/masalah-fokus-judul-penelitian-dan-teori-dalam-penelitian-kualitatif/  

 

http://arisandi.com/perumusan-masalah-dalam-penelitian/  

 

ANGGARAN MODAL


 

  1. A.     PENGERTIAN ANGGARAN MODAL

 

Anggaran modal berhubungan dengan keseluruhan proses perencanaan dan pengambilan keputusan mengenai pengeluaran dana yang jangka waktu pengembalian dananya lebih dari satu tahun.

Anggaran barang modal sering disebut juga dengan penganggaran barang modal atau anggaran untuk pengadaan aktiva tetap. Istilah barang modal mengacu pada aktiva tetap yang digunakan dalam produksi dan anggaran, berarti suatu rencana yang merinci arus kas masuk dan arus kas keluar untuk jangka waktu tertentu di masa akan datang.

Jadi anggaran modal menekankan pada rencana pengeluaran untuk memperoleh aktiva tetap. Dan penganggaran barang modal adalah seluruh proses untuk menganalisis proyek serta untuk memutuskan apakah proyek bersangkutan akan dimasukan ke dalam anggaran modal.

Anggaran modal meliputi keseluruhan proses perencanaan pengeluaran uang yang hasil pengembaliannya diharapkan lebih dari satu tahun. Contoh, pengeluaran investasi dalam bentuk tanah, bangunan atau mesin, pengembangan sumber daya manusia, departemen pengembangan dan penelitian (R&D).

 

  1. B.     PENTINGNYA ANGGARAN MODAL

 

Beberapa alasan mengapa anggaran modal mempunyai arti yang sangat penting bagi perusahaan, antara lain adalah :

  1. Dana yang dikeluarkan akan terikat untuk jngka waktu yang panjang.
  2. Investasi dalam aktiva tetap menyangkut harapan terhadap hasil penjualan di masa yang akan datang.
  3. Pengeluaran dana untuk keperluan tersebut, biasanya meliputi jumlah yang besar dan sulit untuk menjual kembali aktiva tetap yang telah dipakai.
  4. Kesalahan dalam pengambilan keputusan mengenai pengeluaran modal tersebut akan mengakibatrkan kerugian besar dengan dampak antara lain : biaya depresi yang berat, beban bunga modal pinjaman, biaya perunit yang meningkat bilamana kapasitas mesin terlalu besar tetapi tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.

Oleh karena itu, keputusan tentang pemilihan investasi merupakan keputusan yang paling penting diantara dengan berbagai keputusan yang harus diambil oleh seorang manajer keuangan. Keputusan tersebut tidak saja menentukan tingkat resiko yang harus ditanggung melainkan juga menetukan tingkat keuntungan perusahaan untuk masa yang akan datang.

 

  1. Payback period

Periode “Payback” menunjukkan berapa lama (dalam beberapa tahun) suatu investasi akan bisa kembali. Periode “Payback” menunjukkan perbandingan antara “initial investment” dengan aliran kas tahunan, dengan rumus umu sebagai berikut :

                                     

Payback Period =

                                          

Apabila periode payback kurang dari suatu periode yang telah ditentukan proyek tersebut diterima, apabila tidak proyek tersebut ditolak.

Jangka waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan nilai investasi melalui penerimaan – penerimaan yang dihasilkan oleh proyek investasi tersebut juga untuk mengukur kecepatan kembalinya dana investasi.

Kebaikan dan Kelemahan Payback Method

Kebaikan Payback Method :

1) Digunakan untuk mengetahui jangka waktu yang diperlukan untuk pengembalian investasi dengan resiko yang besar dan sulit.

2) Dapat digunakan untuk menilai dua proyek investasi yang mempunyai rate of return dan resiko yang sama, sehingga dapat dipilih investasi yang jangka waktu pengembaliannya cepat.

3) Cukup sederhana untuk memilih usul-usul investasi.

Kelemahan Payback Method :

1) Tidak memperhatikan nilai waktu dari uang.

2) Tidak memperhitungkan nilai sisa dari investasi.

3) Tidak memperhatikan arus kas setelah periode pengembalian tercapai.

 

Rumus periode pengembalian jika arus kas per tahun jumlahnya berbeda

 

                                   a – b

Payback Period = n +_____ x 1 tahun

                                    c – b

 

n = Tahun terakhir dimana jumlah arus kas masih belum bisa menutup investasi mula-mula

a = Jumlah investasi mula-mula

b = Jumlah kumulatif arus kas pada tahun ke – n

c = Jumlah kumulatif arus kas pada tahun ke n + 1

Rumus periode pengembalian jika arus kas per tahun jumlahnya sama

                              Investasi awal

Payback Period = ____________ x 1 tahun

                                 Arus kas

 

· Periode pengembalian lebih cepat : layak

· Periode pengembalian lebih lama : tidak layak

· Jika usulan proyek investasi lebih dari satu maka periode pengembalian yang lebih cepat yang dipilih

Contoh kasus arus kas setiap tahun jumlahnya berbeda

  1. Suatu usulan proyek investasi senilai Rp. 600 juta dengan umur ekonomis 5 tahun, Syarat periode pengembalian 2 tahun, dengan tingkat bunga 12% per tahun, dan arus kas pertahun adalah :

· Tahun 1 RP. 300 juta

· Tahun 2 Rp. 250 juta

· Tahun 3 Rp. 200 juta

· Tahun 4 Rp. 150 juta

· Tahun 5 Rp. 100 juta

 

Arus kas dan arus kas kumulatif

 

Tahun

Arus kas

Arus kas kumulatif

1

300.000.000

300.000.000

2

250.000.000

550.000.000

3

200.000.000

750.000.000

4

150.000.000

900.000.000

5

100.000.000

1.000.000.000

 

Periode Pengembalian

                       

= n +     x 1 tahun

                       

                       

=2 +   x 1 tahun

                       

= 2,25 tahun atau 2 tahun 3 bulan 

 

Periode pengembalian lebih dari yang disyaratkan oleh perusahaan maka usulan proyek investasi inidi tolak

 

 

  1. Investasi          =          Rp 150             juta

CF1            =          Rp   36,5          juta

                  —————————–  –

                              Rp 113,5          juta

CF 2           =          Rp   37,24        juta

                  —————————– –

                              Rp   76,26        juta

CF3            =          Rp   38,8          juta

                  —————————– –

                              Rp   37,46        juta

 

PP = 3 tahun + (37,46  x 12 bulan )

                         39,94

 

      = 3 tahun 11 bulam 8 hari

  1. 2.      Metode NPV

Net Present Value atau biasa disingkat dengan NPV adalah merupakan kombinasi pengertian present value penerimaan dengan present value pengeluaran.

Untuk lebih jelas ada baiknya dilihat dengan contoh perhitungan dibawah ini.

  1. Suatu proyek dengan dengan investasi sebesar Rp. 7,000 juta dan tingkat bunga yang relevan sebesar 18%. Proyek ini diharapkan akan menghasilkan nilai sebesar Rp. 9,000 juta. Maka berapakah besarnya net present value yang akan dihasilkan?

PVpenerimaan = 9.000 / ( 1 + 0.18 )1 = Rp. 7,627 juta

PVinvestasi = 7.000 / ( 1 + 0.18 )0 = Rp. 7,000 juta

Maka Net Present Value yang dihasilkan adalah

NPV = PVinvestasi + PVpenerimaan

NPV = – 7,000 + 7,627 = Rp. 627 juta

Sehingga didapatlah rumus sebagai berikut:

NPV = Ao + (A1 / (1 + r))

dimana, Ao = nilai awal investasi; A1 = nilai penerimaan dari investasi; r = tingkat suku bunga yang relevan.

Berkaitan dengan investasi (modal) yang akan ditanamkan, maka diperlukan pedoman untuk dapat dengan bijak menilai investasi tersebut. Dan pedoman tersebut yang dapat dipakai sebagai panduan adalah:

  • Terima investasi yang diharapkan bilamana memberikan NPV positif.
  • Terima investasi yang memberikan IRR yang lebih besar daripada tingkat keuntungan yang diisyaratkan.

Tentu saja penyajian konsep ini berlaku bilamana kondisi pasar uang dan pasar modal yang sempurna dengan catatan:

  • Tingkat suku bunga yang ada adalah stabil dan sama, tidak berfluktuatif.
  • Tidak adanya pihak yang dominan untuk mempengaruhi pasar.
  • Kondisi diluar transaksi keuangan yang ada adalah stabil.
  1. Contoh soal kedua

Tahun

NCF( Rp)

DF 14 %

PV of NCF (Rp)

1

2

3
4

5

Nilai sisa

36.500.000

37.240.000

38.800.000

39.940.000

40.900.000

10.000.000

0,8772

0,7695

0,675

0,5921

0,5194

32,017.800

28.656.180

26.190.000

23.648.474

26.437.460

Jumlah

Io

NPV

(tidak layak)

 

136.949.914

150.000.000 (-)

-13.050.086

  1. 3.      Profitability Index

Profitability Index (PI)

Metode ini menghitung perbandingan antara nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih di masa datang dengan nilai sekarang investasi.

 

Rumusannya = PI = PV of proceed            atau      PI = PV of NCF

                                 PV of Outlays                                             PV of lo

Persyaratan :

  • Jika PI < 1 maka ususlan investasi tersebut tidak layak
  • Jika PI > 1 maka ususlan investasi tersebut layak.

Kelebihannya :

  • Menggunakan arus kas sebagai dasar perhitungan
  • Memperhatikan nilai waktu dari uang
  • Konsistensi dengan tujuan perusahaan, yaitu memaksimumkan kekayaan pemegang saham

 

Kelemahannya :

Dapat memberikan panduan dan pillihan yang salah pada proyek-proyek yang mutually exslusive yang memiliki unsur ekonomis dan skala investasi yang berbeda.

Definisi dari Profitability Index menurut beberapa ahli. Definisi-definisi dari para ahli antara lain adalah sebagai berikut :

Menurut Chaerul D.Djakman (2000,312)
“Indeks keuntungan atau biaya adalah rasio nilai sekarang dari arus kas bersih pada masa depan terhadap pengeluaran awalnya” Kriteria nilai bersih sekarang investasi memberikan ukuran kelayakan proyek dalam nilai uang yang absolut, maka indeks keuntungan memberikan ukuran relatif dari keutungan bersih masa depannya terhadap biaya awal.
Menurut Bambang Riyanto (2001,126), rumus yang digunakan dalam Profitability Indeks adalah :

Profitability Indeks     = PV Proceed / PV Outlays =136.949.914 / 150.000.000

= 0,913 (tidak layak)

Kriteria keputusan dengan menggunakan indeks keuntungan adalah menerima proyek jika Profitability Index lebih besar atau sama dengan 1,00 dan menolak proyek jika Profitability Index kurang dari 1,00

Profitability Index (PI) > 1,0 : Terima
Profitability Index (PI) < 1,0 : Tolak
Kelemahan dan keuntungan dalam Profitability Index yaitu:
Keuntungan :
– Menggunakan arus kas
– Memakai nilai waktu luang
– Konsisten dengan tujuan perusahaan memaksimumkan kekayaan pemegang saham
Kelemahan :
– Membutuhkan peramalan jangka panjang yang detail mengenai pertambahan keuntungan dan biaya.
Maka PI (Profitability Index) :untuk soal di atas adalah

PI = PV Proceed / PV Outlays = 136.949.914   = 0,913 (tidak layak)

                                                      150.000.000

 

 

 

 

 

  1. Contoh soal ke tiga

PT  SANUBARI merencanakan untuk membeli mesin baru untuk melengkapi pabriknya. Ada dua macam penawaran atas mesin yang diinginkan tersebut dari 2 suplier yang berbeda. Data-data dari kedua mesin adalah sebagai berikut ;

Keterangan

MESIN A

MESIN B

Harga perolehan

Nilai sisa

Umur mesin

Metode penyusutan

Tax

Discount rate

Pendapatan bruto (EBT) :

Tahun 1

Tahun 2

Tahun 3

Tahun 4

63.000.000

0

4 tahun

Straight line

40%

15%

 

7.200.000

7.800.000

8.400.000

9.000.000

60.000.000

   1.500.000

4 tahun

Sum of year Digit Method

40%

15%

 

6.600.000

7.500.000

8.100.000

8.700.000

 

 

 

 

 

 

 

Dari data di atas diminta :

  1. Menghitung Net Cash in Flow per tahun dari masing-masing mesin tersebut.
  2. Menghitung nilai ekonomis dari setiap mesin berdasarkan pada :
    1. Methode Net Present Value (NPV)
    2. b.      Paybach period
    3. Profitability Index (PI)

Berikanlah saran anda dan jelaskan, mesin mana yang sebaiknya dibeli oleh PT SANUBARI berdasarkan pertimbangan nilai ekonomis dari perhitungan di atas.

 

 

  1. C.     SOAL DAN PENYELESAIAN BAB 8 ANGGARAN MODAL

SOAL 1

PT MAYANGKARA  ingin mengadakan investasi perluasan pabrik, dana investasi yang diperlukan sebanyak Rp 150 juta. Dana investasi tersebut seluruhnya akan ditanamkan dalam aktiva tetap, dengan nilai sisa Rp 10 juta . umur ekonomis investasi diperkirakan 5 tahun. Metode penyusutan adalah “ Straight Line Method” . tax 40 %.

Dana untuk investasi diperoleh dari modal sendiri sebesar 40 % dari kebutuhan, 40 % dari pinjaman Bank SELAMET dan sisanya dari obligasi. Biaya modal sendiri sebesar 20 %, biaya modal dana pinjaman bank 16% dan biaya modal dari dana obligasi 18 % . bunga pinjaman bank dan bunga obligasi dinyatakan sebesar pinjaman dan biaya obligasi.

Manajemen menetapkan bahwa menghitung arus kas bersih investasi digunakan teori “ Weight Everage Cost of Capital”. Ramalan atas penjualan dan biaya opreasi tunai selama lima tahun adalah sebagai berikut :

Tahun

 

Volume penjualan

Biaya operasi tunai

1

5.000 Unit

Rp 17.500.000

2

5.200 Unit

Rp 19.000.000

3

5.500 Unit

Rp 20.000.000

4

5.700 Unit

Rp 20.500.000

5

6.000 Unit

Rp 22.500.000

 

Harga jual perunit ditetapkan sama selama lima tahun, sebesar Rp 12.000

Diminta (selama umur investasi) :

  1. Menyusun proyeksi rugi-laba dan menghitung Net Cast Flow
  2. Menentukan Payback Period
  3. Memberikan saran apakah proyek tersebut sebaiknya dilaksanakan atau tidak, berdasarkan perhitungan dengan menggunakan metode :
    1. a.      Net Present Value
    2. b.      Profitalility Index

PENYELESAIAN :

Investasi= 150 juta , terdiri dari :

  1. Modal sendiri (40%)          = 60 juta (biaya = 20%)
  2. Hutang (40%)                    = 60 juta (biaya = 16%)
  3. Obligasi (20%)                   = 30 juta (biaya = 18%)

 

Nilai sisa 10 juta

Depresiasi = 150 juta – 10 juta      = 28 juta

                                5

 

 

WACOC à           K = Ke (E) + Kd (1-T) (D) + Ko (1-T)(O)

                                           V                     V                    V

                              K = 0,2 (0,4) + 0,16 (1-0,4) (0,4) + 0,18 (0,6) (0,2)

                              K = 0,14 = 14 %

Interest = (0,16 x 60 juta) + (0,18 x 30 juta ) = 15 juta

Net Cash Flow = EAT + Depresiasi +_ Interest (1-tax)

  1. Proyeksi R/L (Rp)

Keterangan

Tahun1

Tahun2

Tahun3

Tahun4

Tahun5

Penjualam

Biaya operasi

EBDIT

Depresiasi

EBIT

Interest

EBT

Tax 40%

EAT

Net Cash Flow

60.000.000

17.500.000

42.500.000

28.000.000

14.500.000

15.000.000

    -500.000

        0

    -500.000

 

36.500.000

62.400.000

19.000.000

43.400.000

28.000.000

15.400.000

15.000.000

      400.000

      160.000

      240.000

 

37.240.000

66.000.000

20.000.000

46.000.000

28.000.000

18.000.000

15.000.000

  3.000.000

  1.200.000

  1.800.000

 

38.800.000

68.400.000

20.500.000

47.900.000

28.000.000

19.900.000

15.000.000

  4.900.000

  1.960.000

  2.940.000

 

39.940.000

72.000.000

22.500.000

49.500.000

28.000.000

21.500.000

15.000.000

  6.500.000

  2.600.000

  3.900.000

 

40.900.000

 

 

 

  • Tidak membedakan proyek yang mempunyai perbedaan ukuran dan keadaan investasi
  • Dapat menghasilkan IRR ganda atau tidak menghasilkan IRR sama sekali

 

  1. D.     TUJUAN PERUSAHAAN ANGGARAN MODAL

 

  1. Tujuan Perencanaan

Menyediakan perencanaan yang efektif dari pengeluaran miodal/ dana (capital expenditure)

  1. Tujuan Koordinasi

Menyediakan alat koordinasi antara capital expenditure yang dihubungkan dengan :

  1. Kebutuhan dari berbagai macam operational
  2. Investasi dari berbagai macam kegiatan operasional
  3. Penjualan potensial
  4. Keuntungan potensial
  5. Return on Investment (ROI)
  6. Sebagai alat pengawasan

Menyediakan alat pengawasan baik untuk minor maupun mayor additions.

Kelebihannya :

  • Menggunakan arus kas sebagai dasar perhitungannya
  • Mudah dihitung dan dimengerti

Kelemahannya :

  • Mengabaikan nilai waktu dari uang (untuk undiscounted pay back)
  • Mengabaikan arus kas setelah melakukan periode penutupan yang wajar
  • Sering tergantung subjektifitas pemilik perusahaan

Keterangan :

t           : tahun ke –n

n          : waktu investasi berlangsung

CFt       : cash flow tahun ke –n

k          : tingkat discount rate/cost of capital

Persyaratan :

  • Jika NPV < 0 maka keputusan investasi tersebut TIDAK LAYAK (Not Feasible) untuk dilaksanakan
  • Jika NPV >0 maka keputusan investaswi tersedbut LAYAK (feasible) untuk dilaksanakan

àPerhitungan cost Capital :

Dengan menggunakan metode Weighted Average Cost of Capital :

 

WACC = ke modal sendiri + kd (1- T0) hutang jangka pendek + k0 (1-T) hutang jangka pendek

                    Total investasi                           total investasi                                   total investasi

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan :

ke        : tingkat discount rate modal sendiri

kd        :tingkat discount rate hutang jangka pendek

ko        : tingkat discount rate hutang jangka panjang

T          : tax (Pajak)

Kelebihan :

  • Menggunakan arus kas (cash flow) sebagai dasar perhitungan
  • Memperhatikan nilai waktu dari uang
  • Konsistensi dengan tujuan perusahaan

Internal rate of Return (IRR) adalah metode perhitungan investasi dengan menghitung tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang dari penerimaan-penerimaan kas bersih di masa datang.

           

 

Rumusnya :

             = 0  ATAU        IRR = – (

                  =          discount ratte 1

                 =          discount rate 2

              =          net present value 1

              =          Net present value 2

            r           =          discount rate

Persyaratan :

  • Jika IRR< r maka usulan investasi akan ditolak
  • Jika IRR > r maka usulan investasi akan diterima.

Kelebihan :

  • Memperhatikan nilai waktu dari uang.
  • Menggunakan arus kas sebagai dasar perhitungan.
  • Hasilnya dalam presentase, sehingga pengambilan keputusan dapat membuat perkiraan bila r ( discount rate) sulit diketahui.

Kelemahan :

  • Perhitungan lebih sulit bila tidak menggunakan komputer , karena harus dicoba-coba (trial and error).

Contoh penerapan konsep :

Diketahui data sebagi berikut :

Sales                            2500

Operating Cost                        1500

EBDIT                         1000

Depreciation                  100

EBIT                              900

Interest                                      100

EBT                               800

Tax (50%)                      400

EAT                               400   

 

v  Dengan metode Botton up :

CF = 400 + 100 + 100 (1-50%^) = 550

v  Dengan menggunakan metode Top down :

v  CF = 900 (1-50%) + 100 + 550

Atau :

CF = 1000 (1-50%) + (50% x 100) +550

 

 

Tahap 5 :

Melakukan Penilaian kelayakan investasi.

Ada brbagai cara atau metode dalam melakukan penilaian investasi seperti yang dijabarkan pada tabel berikut :

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

v  Berdasarkan pendekatan keuntungan Akuntansi :

Dikenal dengan rumusan ARR (Average/Acdounting Rate of Return)

Metode ini mengukur tingkat keuntungan rata-rata yang diperoleh dari suatu investasi.

ARR =

 

Rumus :

ARR ini digunakan dalam menghitung persentase pengembangan uang tanpa memperhitungkan time value of money

Kelebihannya :

  • Memperhatikan seluruh pendapatan selama umur proyek berlangsung
  • Mudah dimengerti dan mudah perhitungannya

Kelemahannya :

  • Mengabaikan nilai waktu dari uang
  • Menggunakan Accounting Profits dan tidak memperhatikan arus kas.

 

v  Berdasarkan pendekatan cash flow, tanpa memperhatikan time value of money.

Pendekatan yang tidak memperhatikan nilai waktu dari uang (time value of money) melalui : Payback Period Method. Metode ini mengukur seberapa epat suatu investasi bisa kembali (semakin cepat semakin baik).

Kriteria penilaian yang digunakan adalah kriteria investasi yang dinilai berdasarkan arus kas kumulatif yang akan diterimanya sehingga sampai dengan investasi semula.

 

Rumusnya :     PP =

 

  • Modal sendiri seluruhnya.
  • Modal dari pihak lain (Bank dan lembaga keuangan lainnya)
  • Sebagian modal sendiri dan sebagian dari pihak lain.

 

 

Tahap 3 :

Memperkirakan pola arus kas dari investasi yang diusulkan.

Setiap arus pengeluaran modal atau yang dikenal dengan capital expenditure mempunyai 2 (dua) macam arus kas (cash flow) yaitu :

  1. Arus kas masuk (cash in flow)

Merupakan sumber penerimaan secara tunai yang didapat dari hasil investasi , dalam hal ini semua penerimaan uang dan penerimaan lain yang mempunyai nilai uang tertentu.

  1. Yang termasuk dalam penerimaan uang adalah penerimaan dari penjualan, pembayaran piutang dagang dan sebagainya.
  2. Yang termasuk dalam penerimaan lain yang mengandung nilai uang adalah seperti penerimaan melalui tambahan hutang sari pihak kle tiga seperti bankm lembaga keuangan lainnya (perusahaan anjak piutang), tambahan modal pribadi dari pemilik investasi, penjualan asset (aktiva tetap) dsb.
  3. Arus kas keluar (cash out flow)

Merupakan pengeluaran uang ataupun bentuk-bentuk pengorbanan lain yang mempunyai nilai tertentu. Dalam arus kas keluar dikenal dua istilah pengeluaran berdasarkan waktu yaitu :

 

  1. Pengeluaran modal (capital expenditure atau outlays)

è Setiap pengeluaran tunai yang memberikan manfaat jangka panjang seperti halnya pembelian gedung untuk usaha menjalankan investasi ataupun pembelian aset (aktiva) lainnya yang mengandung manfaat jangka panjang.

  1. Biaya (revenue expenditure)

è Setiap pengeluaran tunai yang diperhitungkan sebagai pengorbanan dalam memperoleh penghasilan pada periode yang sedang berjalan, misalnya biaya bahan produksi, biaya pemasaran dsb.

 

Sales                                                                xxx

Operating cost per cash                                                xxx

EBDIT                                                             xxx

Depreciation                                                    xxx

EBIT                                                                xxx

Interest                                                             xxx

EBT                                                                 xxx

Tax                                                                  xxx

EAT                                                                 xxx

 

Data yang diperlukan dalam melakukan perhitungan arus kas masuk adalah :

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                                 

 

 

Keterangan istilah :

EBDIT                         :           Earnign before Depreciation, interest dan Tax

EBIT                :           Earning Before Interest and Tax

EBT                 :           Earnign Before Tax

EAT                 :           Earning After Tax

 

Tahap 4 :

Melakukan perhitungan arus kas masuk (cash in flow) , yang disingkat CF dalam penulisan formula di bawah. Dalam hal ini tersedia 2 metode yang mendukungnya, yaitu :

  1. Pendekatan Bottom Up (Bottom Up Approach)

Rumusnya :

CF = EAT + Depreciation + Interest (1-Tax)

  1. Pendekatan Top Down (Top Down Approach)

Rumusnya :

CF = EBIT (1-Tax) – Depreciation

Atau :

CF = EBDIT (1 – Tax) + (Tax x Depreciation)

 

  1. Dana yang dikeluarkan akan terikat untuk jangka waktu yang panjang.
  2. Investasi dalam aktiva tetap menyangkut harapan terhadap hasil penjualan di masa yang akan datang.
  3. Pengeluaran dana untuk keperluan tersebut, biasanya meliputi jumlah yang besar dan sulit untuk menjual kembali aktiva tetap yang tyelah dipakai.
  4. Kesalahan dalam pengambilan keputusan mengenai pengeluaran modal tersebut akan mengakibatkan kerugian yang besar, dengan dampak antara lain: biaya depresiasi yang berat< beban bunga modal pinjaman, biaya perunit yang meningkat bilamana kapasitas mesin terlalu besar tetapi tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.

Oleh karena itu keputusan tentang pemilihan investasi merupakan keputusan yang paling penting di antara berbagai jenis keputusan lain yang harus diambil oleh seorang manajer keuangan. Keputusan tersebut tidak sja menentukan tingkat resiko yang harus ditanggung, melainkan juga menentukan tingkat keuntungan perushaan untuk masa mendatang.

 

 

  1. E.     KLASIFIKASI PROYEK (INVESTASI)

Perusahaan pada umumnya mengklasifikasikan proyek atau nvestasi sebagi berikut :

  1. Penggantian (replacement)
  2. Penggantian dapoat dikategorikan menjadi 2 yaitu :
    1. Penggantian untuk kelangsunga usaha

Meliputi pengeluaran untuk penggantian peralatan yang rusak dimana peralatan tersebut digunakan untuk berproduksi. Hal- hal yang penting diperhatikan dalam penggantian ini adalah :

  • Apakah produk dan jasa yang dihasilkan akan diteruskan?
  • Apakah pabrik yang ada saat ini akan tetap digunakan?

Bila jawaban atas pertanyaan tersebut adalaha iya, keputusan untuk mempertahankan kelangsungan usaha akan dilakukan tanpa melaui proses yang rumit.

  1. Penggantian untuk menurunkan biaya

Mencakup pengeluaran untuk menggantikan peralatan yang masih bisa diperbaiki, tapi peralatan tersebut dinilai ttelah usang. Tujuannya untuk menurunkan biaya tenaga kerja, biaya bahan dan biaya-biaya lainnya seperti gas, listrik dan air.

  1. Perluasan (expansion)

Perluasan juga dapat dikategorikan menjadi 2, yaitu :

  1. Ekspansi atas produk yang sudah ada saat ini.

Mencakup pengeluaran untuk meningkatkan kuantitas produk yang ada saat ini atau untuk menambah penjualan seta fasilitas distribusi.

  1. Ekspansi rpoduk atau pasar baru
  2. Meliputi pengeluaran untuk memproduksi produk baru atau untuk meluaskan pasar ke wilayah yang belum disentuh oleh perusahaan. Proyek ini menyangkut kepututsan strategis yang bisa mengubah sifat usaha perusahaan dengan pengeluaran yang biasanya besar dan bersifat jangka panjang.
  3. Lainnya, seperti bangunan kantor, fasilitas bagi eksekutif, lapangan parkir.

 

  1. F.      TEKNIK DAN KONSEP ANGGARAN MODAL

Anggaran modal membantu dalam pengambilan keputusan untuk menolak ataupun menerima sebuah usulan investasi. Ada beberapa tahapan yang harus dilakukan untuk menentukan penilaian suatu investasi beserta teknik-teknik pehitungan pendukungnya :

Tahap 1
Menentukan nilai investasi awal (initial outlays) dari investasi yang akan dilakukan.

Tahap 2
Menentukan modal atau seumber dana yang akan digunakan. Dalam hal ini ada tiga alternatif pilihan, yaitu:
* Modal sendiri seluruhnya.
* Modal dari pihak lain seluruhnya.
* Sebagian modal sendiri dan sebagian dari pihak lain.

Tahap 3:

Memperkirakan pola arus kas dari investasi yang diusulkan.

Setiap arus pengeluaran modal atau dikenal dengan capital expenditure mempunyai 2 macam arus kas, yaitu:

  1. Arus kas masuk (cash in flow)

Merupakan sumber penerimaan secara tunai yang didapat dari hasil investasi, dalam hal ini semua penerimaan uang dan penerimaan lain yang mempunyai nilai uang tertentu.

  1. Yang termasuk dalam penerimaan uang adalah penerimaan dari penjualan, pembayarn piutang dagang dan sebagainya.
  2. Yang termasuk dalam penerimaan lain yang mengundang nilai uang adalah seperti penerimaan melalui tambahan hutang dari pihak ketiga seperti bank, lembaga keuangan lainnya (perusahaan anjak piutang), tambahan modal pribadi dari pemilik investasi, penjualan asset (aktiva tetap) dan sebagainya.

 

  1. Arus kas keluar (cash out flow)

Merupakan pengeluaran uang ataupun bentuk-bentuk pengorbanan lain yang mempunyai nilai yang tertentu. Dalam arus kas keluar dikenal dua istilah pengeluaran berdasarkan waktu, yaitu:

 

  1. Pengeluaran modal (capital expenditure atau outlays)

Yaitu setiap pengeluaran tunai yang memberikan manfaat jangka panjang seperti halnya pembelian gedung untuk usaha menjalankan investasi ataupun pembelian asset (aktiva) lainnya yang mengandung manfaat jangka panjang.

 

  1. Biaya (revenue expenditure)

Yaitu setiap pengeluaran tunai yang diperhitungkan sebagai pengorbanan dalam memperoleh penghasilan pada periode yang sedang berjalan, misalnya biaya bahan produksi, biaya pemasaran, dan sebagainya.

 

 

Data yang diperlukan dalam melakukan perhitungan arus kas masuk adalah:

Tahap 4:

Melakukan perhitungan arus kas masuk (cash inflow), yang disingkat CF dalam penulisan forlmula di bawah ini. Dalam hal ini tersedia dua metode yang mendukungnya, yaitu:

  1. Pendekatan Bottom Up (Bottom Up Approach)

Rumusnya:

CF = EAT + Depreciation + Interest (1 – Tax)

  1. Pendekatan Top Down (Top Down Approach)

Rumusnya:

CF = EBIT (1-Tax) + Depreciation

Atau

CF = EBDIT (1 –Tax) + (Tax x Depreciation)

Tahap 5:

Melakukan penilaian kelayakan investasi dengan menggunakan metode-metode penilaian investasi adalah:

  1. 1.      Payback Period Method/Payout Method

Adalah suatu periode yang diperlukan untuk dapat menutup kembali pengeluaran investasi dengan menggunakan Proceed.

Kriteria Penilaiannya adalah: Suatu investasi diterima jika laba tunai rata-rata per tahun atau penghematan tunai per tahun yang diperoleh dari investasi cukup dapat menutup modal yang ditanamkan dalam jangka waktu yang telah dikehendaki manajemen.

Rumus perhitungan Payback Period adalah:

            

 

   

 

 

Kebaikan Payback Period Method:

  • Bagi investasi yang besar resikonya dan sulit untuk diperkirakan, maka test dengan metode Payback ini dapat mengetahui kembalinya modal yang ditanamkan secepatnya.
  • Payback Method ini dapat digunakan untuk menilai dua proyek investasi yang mempunyai Rate Of Return dan resiko yang sama, sehingga dapat dipilih investasi mana yang paling cepat kembali.
  • Merupakan alat yang sederhana untuk memilih usul-usul investasi sebelum meningkat ke penilaian lebih lanjut.

Keburukan Payback Period Method :

  • Tidak memperhatikan nilai waktu uang
  • Tidak memperhatikan pendapatan selanjutnya setelah investasi pokok kembali.
  1. 2.      Net Present Value Method

Adalah apabila jumlah Present Value dari keseluruhan Proceeds yang diharapkan lebih besar dari Present Value investasinya, maka usul investasi tersebut dapat diterima, dan apabila sebaliknya akan ditolak.

Kebaikan Net Present Value Method :

  • Sudah memperhitungkan nilai waktu uang
  • Sudah memperhitungkan seluruh aliran kas selama umur investasi

Kelemahan Net Present Value Method:

  • Membutuhkan perhitungan yang baik dalam menentukan tingkat bunganya.
  • Dalam membandingkan dua proyek investasi yang tidak sama modal yang ditanamkan di dalamnya, nilai tunai neto dalam rupiah tidak dapat digunakan sebagai pedoman.
  1. 3.      Internal Rate of Return Method

Adalah tingkat bunga yang akan menjadikan jumlah present value proceed yang diharapkan akan diterima sama dengan jumlah present value pengeluaran modal.

IRR berasal dari bahasa Inggris Internal Rate of Return disingkat IRR yang merupakan indikator tingkat efisiensi dari suatu investasi. Suatu proyek/investasi dapat dilakukan apabila laju pengembaliannya (rate of return) lebih besar dari pada laju pengembalian apabila melakukan investasi di tempat lain (bunga deposito bank, reksadana dan lain-lain).

IRR digunakan dalam menentukan apakah investasi dilaksanakan atau tidak, untuk itu biasanya digunakan acuan bahwa investasi yang dilakukan harus lebih tinggi dari Minimum acceptable rate of return atau Minimum atractive rate of return. Minimum acceptable rate of return adalah laju pengembalian minimum dari suatu investasi yang berani dilakukan oleh seorang investor.

Cara perhitungan IRR

IRR merupakan suku bunga yang akan menyamakan jumlah nilai sekarang dari penerimaan yang diharapkan diterima (present value of future proceed) dengan jumlah nilai sekarang dari pengeluaran untuk investasi.

Besarnya nilai sekarang dihitung dengan menggunakan pendekatan sebagai berikut:

 

Contoh

Bila suatu investasi mempunyai arus kas sebagaimana ditunjukkan dalam tabel berikut

Tahun (n)

Arus kas (Cn)

0

-4000

1

1200

2

1410

3

1875

4

1050

Kemudian IRR  r  dihitung dari

.

Dalam kasus ini hasilnya adalah 14.3%.

Perhitungan IRR praktis

Untuk mempermudah perhitungan IRR, yaitu dengan mencoba suku bunga yang diperkirakan akan memberikan nilai NPV positif misalnya 10 % yang akan memberikan NPV sebesar 382 dan dilanjutkan dengan perhitungan NPV yang negatif, Misalnya pada 20 % akan memberikan NPV sebesar -429. Dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

 

atau disederhanakan :

 

 

dari data di atas akan diperoleh IRR Sebesar 14,71 %, angka ini sedikit berbeda dari hasil hitungan di atas karena merupakan perhitungan empiris, angka ini bisa diperbaiki kalau rentang bunga tinggi dengan bunga rendah lebih kecil.

 

Reasuransi


 

Dasar Fungsi Reasuransi
‘Reasuransi adalah Perusahaan yang menerima Pertanggungan Ulang dari Perusahaan Asuransi atas sebagian atau keseluruhan Risiko yang telah atau tidak dapat ditanggung kembali oleh Perusahaan Asuransi. Dengan demikian Perusahaan Asuransi menerima pemindahan Risiko dari perusahaan Asuransi yang menutup secara langsung Risiko Tertentu (Ceeding Company) dimana nilai pertanggungan tersebut telah melampaui kemampuannya menerima suatu Risiko.

Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia nomor 2 tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian menyatakan bahwa perusahaan reasuransi adalah perusahaan yang memberikan jdsa dalam pertanggungan ulang terhadap risiko yang dihadapi oleh perusahaan asuransi kerugian dan atau perusahaan asuransi jiwa.
Sedangkan peranan reasuransi ini dinyatakan dengan tegas dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 73 tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian bahwa setiap penutupan asuransi yang jumlah uang pertanggungannya melebihi retensi sendiri harus memperoleh dukungan reasuransi.
Peranan reasuransi ini makin dipertegas dalam Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia nomor 224/KMK.017/1993 tentang kesehtaan keuangan perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi bahwa dukungan reasuransi pada perusahaan asuransi harus berdasarkan reasuransi treaty dan baru dukungan reasuransi fakultatif apabila dukungan reasuransi treaty telah tidak mencukupi serta sekurang-kurangnya perusahaan asuransi mendapat dukungan reasuransi dari satu perusahaan reasuransi dan satu perusahaan asuransi didalam negeri.

Pada dasarnya Perusahaan Reasuransi melakukan kegiatan yang sam a dengan Perusahaan Asuransi. hanya perbedaan dalam menerima pemindahan Risiko adalah berasal dari Perusahaan Asuransi sehingga fungsi Underwriting yang dilakukan lebih mendasarkan Pada Underwriting Perusahaan Asuransi dan tidak secara langsung atas risiko yang akanditerimanya. Dengan demikian maka Reasuransi tidak mempunyai hubungan secara langsung dengan masyarakat Tertanggung dan membantu Perusahaan Asuransi dalam hal :

a. Memperbesar kapasitas akseptasi Risiko-risiko tertentu oleh perusahaan Asuransi;
b. Penyebaran Risiko yang ditanggungnya;
c. Stabilisasi keuntungan Perusahaan;
d. Menimisir cadangan Teknis yang dibutuhkan;
e. Mengembangkan kegiatan Perusahaan serta peningkatan asas Profesionalisme dan daya saing Perusahaan.

Pada dasarnya ada dua bentuk dasar Reasuransi yaitu,

Pertama,
Perusahaan Reasuransi Profesional (Profesional Reinsurer) merupakan badan Usaha yang semata-mata bertindak sebagai Penanggung ulang dan tidak mempunyai hubungan sama sekali dengan masyarakat tertanggung atau tidak melakukan penutupcn Asuransi sebagci penanggung Pertama dalam masyarakat dan yang,

Kedua,
Perusahaan Reasuransi nonprofesional (nonprofesional reinsurer) dimana kegiatan reasuransi ini hanya merupakan salah satu unit kegiatan dalam perusahaan Asuransi at au dengan kat a lain kegiatan utama perusahaan adalah sebagai Perusahaan Asuransi akan tetapi juga melakukan kegiatan Reasuransi yang pada umumnya merupakan kegiatan at as dasar saling menguntungkan dan menerima Risiko tersebut dari Perusahaan Asuransi lainnya yang juga menerima Risiko dariPerusahaan Asuransi bersangkutan.

Disamping itu pula ada bentuk-bentuk lain yang merupakan penggabungan atau ker ja sama antara dua atau lebih Perusahaan Asuransi dalam usaha memperbesar kapasitas Akseptasi risiko secara bersamadan saling menguntungkan terutama dalam risiko-risiko yang nilainya besar atau risikonya bersifat kompleks serta dalam unit yang relatif besar dimana biasanya bergabung dalam apa yang dikenal dengan nama Pool Asuransi, Konsorsium Asuransi dan lain sebagainya.

Ruang Lingkup Reasuransi
Pada dasarnya ada 2 (dua) bentuk dasar jenis reasuransi yaitu Proses Penerimaan Pertanggungan Ulang yang didasarkan Kasus Perkasus dan yang diterima berdasarkan Perjanjian yang telah disetujui bersama antara Perusahaan Asuransi dengan Perusahaan Reasuransi.
Specific/Facultative Reinsurance.
Sesuai dengan namanya maka Reasuransi Fakultatif merupakan kegiatan penempatan Reasuransi didasarkan pada kemauan masing-masing pihak dimana Perusahaan Asuransi boleh menawarkan atau tidak menawarkan risiko yang tidak tertampung dalam kemampuannya kepada Perusahaan Reasuransi tertentu dan Perusahaan Reasuransi tertentu tersebut boleh menerima atau menolak apabila ditawarkan risiko tersebut.

Automatic/Treaty Reinsurance.
Perjanjian Reasuransi atau Reasuransi Otomatis adalah dimana Perusahaan Asuransi telah setuju terlebih dahulu untuk menempatkan atau memberikan kelebihan risikonya kepada Perusahaan Reasuransi dan Perusahaan Reasuransi tersebut telah setuju secara otomatis menerima kelebihan risiko yang dipindahkan kepadanya oleh Perusahaan Asuransi yang bersangkutan sampai dengan jumlah yang telah disetujui bersama.

Facultative Obligatory Reinsurance.
Jenis Asuransi ini adalah merupakan kombinasi an tara kedua bentuk ekstreem tersebut diatas dimana Perusahaan Asuransi boleh menawarkan atau menempatkan kelebihan risikonya, boleh juga tidak menempatkannya kepada Perusahaan Reasuransi tersebut; akan tetapi apabila kelebihan Risiko tersebut ditempatkan maka Perusahaan Reasuransi tadi harus menerima sampai dengan jumlah yang telah disetujui.

Program & Kontrak Reasuransi

Program atau Kontrak Reasuransi pada dasarnya dapat didasarkan pad a Saham tertentu dari jumlah risiko dimana Perusahaan Asuransi menanggungnya (A Share Of The Amounts Of The Risks) atau Menanggung setelah batas tertentu (Excess Of The Loss Beyond Certain Establish Limits).

Pada dasarnya kontrak atau Program Reasuransi tentunya adalah untuk jenis automatic atau Treaty Reinsurance ataupun Facultative Obligatory Reinsurance; yang dapat dibagi dalam dua kelompok dasar yaitu Program Reasuransi secara Proporsional dimana saharn Perusahaan Reasuransi ditetapkan dalam Proporsi atau Persentase yang telah ditetapkan dan Program Reasuransi secara Non-Proporsional dimana Perusahaan Reasuransi menanggung sampai sejumlah tertentu yang telah disetujui setelah melalui batas-batas kerugian tertentu.

Proporsional Reinsurance Treaty.
Sebagaimana telah disinggung diatas maka Kontrak atau Program Reasuransi Proporsional adalah dimana Perusahaan Reasuransi berpartisipasi dalam jumlah yang secara relatif maupun kwantitatif telah ditetapkan secara sebanding, dimana dapat berbentuk

Quota-Share (Prorata) Reinsurance Treaty.
Perusahaan Asuransi setuju untuk memberikan secara proporsional (Persentase Tertentu) dari jumlah yang telah disetujui bersama untuk setiap kontrak Asuransi yang ditutup oleh Perusahaan Asuransi yang bersangkutan kepada Perusahaan Reasuransi sampai dengan proporsi atau jumlah yang telah disetujui.

Surplus Reinsurance Treaty.
Perusahaan Reasuransi tidak selalu harus berpartisipasi dalam setiap risiko yang ditutup Perusahaan Reasuransi, disini Perusahaan Reasuransi baru ikut berpartisipasi setelah melampaui batas kemampuan akseptasi Perusahaan Asuransi atau melebihi retensi Perusahaan Asuransi sampai dengan proporsi yang telah disetujui bersama; diaman secara relatif adalah tetap besarnya akan tetapi secara kwantitatif dapat berbeda akan tetapi tidak melebih jumlah maksimum yang telah disetujui bersama. Surplus Treaty ini dapat terbagi dalam berbagai tingkatan misalnya First Surplus Treaty, Second Surplus Treaty dan seterusnya.

Non-Proporsional Reinsurance Treaty.
Kontrak Reasuransi non-proporsional adalah merupakan Pertanggungan dimana Perusahaan Reasuransi menerima Risiko sampai dengan Nilai tertentu setelah melalui batas kerugian tertentu yang diderita Perusahaan Asuransi, dimana jumlah ini merupakan limit tertinggi secara Agregatif dalam jangka waktu paling lama satu Tahun Underwriting .atau bisa kurang apabila jumlah tersebut telah habis dan tidak diperbaharui lagi; jadi disini seolah-olah Perusahaan Asuransi memberi ASlfransi Untuk suatu nilai tertentu yang dapat dipakai untuk menutup kerugian yang dideritanya diatas kemampuannya secara akumulatif sampai dengan jumlah tertentu tanpa melihat jumlah risiko yang diatas kemampuannya.

Excess Of Loss Reinsurance Treaty.
Disini ditetapkan juga kerugian maksimum yang dapat ditanggung oleh Perusahaan Asuransi dan diatas kerugian maksimum ini barulah Perusahaan Reasuransi ikut berpartisipasi secara kumulatif sampai dengan batas yang telah ditetapkan bersama. Dan apabila telah habis walaupun Tahun Underwritingnya belum habis apabila tetap menghendaki proteksi tersebut maka Perusahaan Asuransi harus membeJi kembali dan apabila sampai dengan Tahun Underwriting yang bersangkutan tidak terpakai atau masih ada sisanya maka jumlah tersebut dengan sendirinya menjadi daluwarsa.

Stop Loss Reinsurance Treaty.
Pad a dasarnya cara kerja Stop Loss Reinsurance Treaty ini sama dengan Excess Of Loss Reinsurance Treaty hanya tujuan serta karakteristiknya agak berbeda dimana Stop Loss lebih ditujukan Untuk me/indungi Perusahaan Asuransi atas kerugian yang bersifat Katastropik atau akumu/atif dari risiko-risiko sejenis yang ditanggung.

Aspek Teknis Reasuransi

Aspek teknis yang menonjol dalam kegiatan Reasuransi secara umum terlihat sebagai berikut :
pertama,
Yang di-Underwrite adalah Perusahaan Asuransi dan bukan tertanggung sehingga menganut falsafah “Reinsurance Follow the Fortune of The Insurance”.

kedua,
suatu program Reasuransi adalah berdasarkan pada Loss Ratio Perusahaan Asuransi serta Kemampuan Keuangan serta Manajemennya.

ketiga
Portfolio antara jumlah yang ditanggung sendiri oleh Perusahaan Asuransi serta yang di Reasuransikan;

keempat
Kemungkinan terjadinya kerugian katastropik karena adanya satu risiko yang ditutup lebih dari satu Perusahaan Asuransi.

kelima
Kemampuan mengaksep risiko serta program retrosessinya.

Salah satu syarat tehnis yang ditekankan oleh Pemerintah dimana dinyatakan bahwa perusahaan reasuransi harus menerapkan reasuransi treaty secara timbal balik sekurang-kurangnya dengan satu perusahaan reasuransi didalam negeri.
 
Penempatan reasuransi keluar negeri hanya dapat dilakukan pada perusahaan reasuransi yang memuhi persyaratan-persyaratan dalam permodalan, izin operasional, memenuhi perundang-undangan setempat serta memiliki reputasi yang baik didunia perasuransian internasional.
Tentunya secara khusus masih ada hal-hal yang menyangkut dasar perhitungan teknis Perusahaan Reasuransi seperti kekayaan Perusahaan (Net Worth), Portfolio bisnis yang diterima secara menyeluruh, Loss Ratio Perusahaan dibandingkan loss Ratio Industri Reasuransi dan Asuransi serta lain-Iainnya.

ly:”Ari” �”a�?�h�; mso-fareast-font-family:Arial;mso-fareast-language:IN;mso-bidi-font-weight: bold’>-       Total line divestment :dengan melepas produk yg tidak berkembang/tidak memenuhi rencana strategi perusahaan. Tetapi ini jarang dilakukan olkeh perusahaan karena faktor psikologis dan ekonomis.

 

  1. 3.    STRATEGI MEMASUKI PASAR

First-In Strategy
Dalam strategi ini, perusahaan berusaha menjadi pionir dengan jalan memasuki pasar pertama kali sebelum ada perusahaan lain yang melakukannya. Tujuannya adalah untuk meraih keunggulan dan kepemimpinan dalam persaingan, sehingga para pesaing sukar menyamainya.

Keunggulan strategi ini antara lain berupa kesempatan untuk menjadi pemimpin pasar, memperoleh pangsa pasar yang cukup besar, serta harga yang relatif lebih murah daripada para pesaing yang masuk kemudian. Sedangkan resikonya bisa membutuhkan investasi yang besar, resiko kegagalan dalam pengenalan produk baru, biaya riset, dan lain-lain.

Early-Entry Strategy
Strategi ini dilakukan dengan memasuki pasar segera setelah pelopor pasar memulainya. Tujuannya adalah untuk mencegah agar pelopor pasar jangan sampai dapat menciptakan posisi yang kuat dalam pasar.
Persyaratan yang perlu diperhatikan dalam strategi ini antara lain:

1. Perlu strategi pemasaran yang superior

2. Dibutuhkan sumber daya yang besar

3. Komitmen yang kuat untuk menantang market leader.

Laggard-Market-Entry Strategy
Strategi ini merupakan strategi memasuki pasar dalam tahap pertumbuhan akhir atau dalam tahap kedewasaan dalm Product Live Cycle.Ada dua model strategi ini yang bisa digunakan, antara lain:

1. Imitator, yaitu memasuki pasar dengan cara menjual produk imitasi/tiruan. Tujuannya adalah untuk menjangkau bagian dari pasar yang tidak memiliki kesetiaan/loyalitas terhadap merek tertentu.

2. Initiator, Yaitu memasuki pasar dengan strategi pemasaran non-konvensional. Initiator menanyakan kondisi status quo dan setelah mengembangkan berbagai pemikiran inovatif, lalu memasuki pasar dengan produk baru.

Tujuannya adalah untuk melayani kebutuhan pasar secara lebih baik daripada yang telah dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang sudah ada. Peluang sukses bagi initiator diperoleh melalui eksploitasi perubahan teknologi, menghindari persaingan langsung atau mengubah struktur bisnis yang sudah ada.

  1. 4.     Istilah strategi berasal dari kata Yunani, strategeia (stratus = militer dan ag=memimpin) yang artinya seni atau ilmu untuk menjadi seorang jenderal. Konsep ini relevan dengan situasi jaman dulu yang sering diwarnai perang, dimana jenderal dibutuhkan untuk memimpin suatu angkatan perang agar dapat selalu memenangkan perang.
    Strategi juga diartikan sebagai suatu rencana untuk pembagian dan penggunaan kekuatan militer dan material pada daerah-daerah tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. 
    Konsep strategi militer seringkali diadaptasi dan diterapkan di dalam dunia bisnis, misalnya konsep Sun Tzu, Hannibal. Dalam konteks bisnis, strategi menggambarkan arah bisnis yang mengikuti lingkungan yang dipilih dan merupakan pedoman untuk mengalokasikan sumber daya dan usaha suatu organisasi. Setiap organisasi membutuhkan strategi manakala menghadapi situasi berikut (Jain, 1990);
    1. Sumber daya yang dimiliki terbatas
    2. Ada ketidakpastian mengenai kekuatan bersaing organisasi
    3. Komitmen terhadap sumber daya tidak dapat diubah lagi.
    4. Keputusan-keputusan harus dikoordinasikan antar bagian sepanjang waktu
    5. Ada ketidakpastian mengenai pengendalian inisiatif.

 

  1. 5.     Apakah Perusahaan Perlu Perencanaan Strategis?

Perusahaan adalah suatu organisasi untuk mencapai suatu tujuan maupun suatu keuntungan tertentu yang telah direncanakan.

Oleh karena itu, perusahaan membutuhkan perencanaan strategis dengan sebuah manajemen yang berkemampuan untuk mencapai tujuan dengan merencanakan (planning), mengorganisasikan (organizing), mengarahkan (directing) dan mengontrol (controlling) seumber daya-sumber daya perusahaan yang ada.

Jika di dalam suatu perusahaan tidak terdapat suatu perencanaan strategis maka perusahaan itu bisa dikatakan tidak mempunyai suatu manajemen yang berkemampuan untuk merencanakan (planning), mengorganisasikan (organizing), mengarahkan (directing) dan mengontrol (controlling) seumber daya-sumber daya perusahaan yang ada, maka perusahaan itu nantinya bisa saja rugi atau tidak mendapatkan suatu profit yang lebih besar bila tidak direncanakan dengan baik dan benar.

6.  Manfaat dari teciptanya kepuasan pelanggan

Hubungan antara perusahaan dengan pelanggan menjadi haromonis, menciptakan dasar yg baik bagi pembeli nulang serta menciptakan loyalitas pelanggan dan membentuk rekomendasi dari mulut ke mulut.

Pelanggan yg puas, otomatis menjadi pelanggan yang loyalà loyalitas pelanggan merupakan variabel endogen yg disebabkan oleh kombinasi dari kepuasan, sehingga loyalitas pelanggan merupakan fungsi dari kepuasan. Jika hubungan antara kepuasan pelanggan adalah (+) maka kepuasan yang tinggi akan meningkatkan loyalitas pelanggan. Hubungan antara loyalitas dan kepuasan pelanggan berbanding lurus.

  1. 7.      Strategi demarketingà

 strategi yang diambil pemasar dimana pemasar berusaha utk mengurangi permintaan akan produk ketika permintaan akan produk tersebut jauh lebih besar dari pada kemapuan produsen utk memproduksi barang tersebut dgn cara menaikan harga, mengurangi promosi/menghilangkan manfaat produk.

Kapan? Disaat permintaan akan barang lebih besar dari kemampuan produsen utk memproduksi barang yang diminta tersebut.

Tujuan? Utk menurunkan atau menyesuaikan antara permintaan dengan produksi, menurunkan permintaan utk produk yg diinginkan.

Resiko kemungkinan : perusahaan akan kehilangan sebagian pelanggan

PERANAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL DALAM PERTUMBUHAN EKONOMI


 

 

  1. A.    EFEK PERDAGANGAN INTERNASIONAL TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI

Dalam konteks perekonomian suatu negara, salah satu wacana yang menonjol adalah mengenai pertumbuhan ekonomi. Meskipun ada juga wacana lain mengenai pengangguran, inflasi atau kenaikan harga barang-barang secara bersamaan, kemiskinan, pemerataan pendapatan dan lain sebagainya. Pertumbuhan ekonomi menjadi penting dalam konteks perekonomian suatu negara karena dapat menjadi salah satu ukuran dari pertumbuhan atau pencapaian perekonomian bangsa tersebut, meskipun tidak bisa dinafikan ukuran-ukuran yang lain.

Wijono (2005) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator kemajuan pembangunan. Salah satu hal yang dapat dijadikan motor penggerak bagi pertumbuhan adalah perdagangan internasional. Salvatore menyatakan bahwa perdagangan dapat menjadi mesin bagi pertumbuhan ( trade as engine of growth, Salvatore, 2004). Jika aktifitas perdagangan internasional adalah ekspor dan impor, maka salah satu dari komponen tersebut atau kedua- duanya dapat menjadi motor penggerak bagi pertumbuhan. Tambunan (2005) menyatakan pada awal tahun 1980-an Indonesia menetapkan kebijakan yang berupa export promotion.

Dengan demikian, kebijakan tersebut menjadikan ekspor sebagai motor penggerak bagi pertumbuhan. Ketika perdagangan internasional menjadi pokok, tentunya perpindahan modal antar negara menjadi bagian yang penting juga untuk dipelajari. Sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Vernon, perpindahan modal khususnya untuk investasi langsung, diawali dengan adanya perdagangan internasional (Appleyard, 2004).

Ketika terjadi perdagangan internasional yang berupa ekspor dan impor, akan memunculkan kemungkinan untuk memindahkan tempat produksi. Peningkatan ukuran pasar yang semakin besar yang ditandai dengan peningkatan impor suatu jenis barang pada suatu negara, akan memunculkan kemungkinan untuk memproduksi barang tersebut di negara importir. Kemungkinan itu didasarkan dengan melihat perbandingan antara biaya produksi di negara eksportir ditambah dengan biaya transportasi dengan biaya yang muncul jika barang tersebut diproduksi di negara importir. Jika biaya produksi di negara  eksportir ditambah biaya transportasi lebih besar dari biaya produksi di negara importir, maka investor akan memindahkan lokasi produksinya di negara importir (Appleyard, 2004).

  1. B.     EFEK TERHADAP PRODUKSI

Pedagangan luar negeri mempunyai pengaruh yang kompleks terhadap sector produksi di dalam negeri. Secara umum kita bisa menyebutkan empat macam pengaruh yang bekerja melalui adanya:

  1. Spesialisasi produksi
  2. naikan “investasi surplus”
  3. “Vent for Surplus”.
  4. Kenaikan produktivitas.

 

 

 

Spesialisasi

Perdagagangan internasional mendorong masing- masing Negara kea rah spesialisasi dalam produksi barang di mana Negara tersebut memiliki keunggulan komperatifnya. Dalam kasus constant-cost, akan terjadi spesialisasi produksi yang penuh, sedangkan dalam kasus increasing- cost terjadi spesialisasi yang tidak penuh. Yang perlu diingat disini adalah spesialisasi itu sendiri tidak membawa manfaat kepada masyarakat kecuali apabila disertai kemungkinan menukarkan hasil produksinya dengan barang-barang lain yang dibutuhkan. Spesialisasi plus perdagangan bisa meningkatkan pendapatan riil masyarakat, tetapi spesialisasi tanpa perdagangan mungkin justru menurunkan kesejahteraan masyarakat.

 Tetapi apakah spesialisasi plus perdagangan selalu menguntungkan suatu negara? Dalam uraian diatas dapat menyimpulakan, bahwa CPF sesudah perdagangan selalu lebih tinggi atau setidak-tidaknya sama dengan CPF sebelum perdangangan. Ini berarti bahwa perdagangan tidak akan membuat pendapatan riil masyarakat lebih rendah, dan sangat mungkin membuatnya lebih tinggi. Tetapi perhatikan bahwa analisa semacam ini bersifat “statik”, yaitu tidak memperhitungkan pengaruh-pengaruh yang timbul apabila situasi berubah atau berkembang, seperti yang kita jumpai dalam kenyataan.

Ada tiga keadaan yang membuat spesialisasi dan perdagangan tidak selalu bermanfaat bagi suatu negara. Ketiga keaadan ini berkaitan dengan kemungkinan spesialisasi produksi yang terlalu jauh, artinya adanya sektor produksi yang terlalu terpusatkan pada satu atau dua barang saja.

 

 

Keadaan ini adalah:

  1. Ketidakstabilan pasar luar negeri

Bayangkan suatu negara yang karena dorongan spesialisasi dari perdagangan, hanya memproduksi karet dan kayu. Apabila harga karet dan kayu dunia jatuh, maka perekonomian dalam negeri otomatis akan jatuh. Lain halnya apabila negara tersebut tidak hanya berspesialisasi pada kedua barang tesebut, tetapi juga memproduksi barang-barang lain baik untuk ekspor maupun untuk kebutuhan dalam negeri sendiri. Turunnya harga dari satu atau dua barang mungkin bisa diimbangi oleh naiknnya haga barang-barang lain. Inilah pertentangan atau konfik antara spesialisasi dengan diversifikasi. Spesialisasi biasa meningkatkan pendapatan riil masyarakat secara maksimal, tetapi dengan resiko ketidakstabilan pendapatan tetapi dengan konsekuensi harus mengorbankan sebagian dari kenaikan pendapatan dari spesialisasi. Sekarang hampir semua negara di dunia menyadari bahwa spesialisasi yang terlalu jauh (meskipun didasarkan atas prinsip keunggulan komperatif, seperti yang ditunjukan oleh teori ekonomi) bukanlah keadaan yang baik. Manfaat dari diversifikasi harus pula diperhitungkan.

  1. Keamanan nasional

Bayangkan suatu negara hanya memproduksi satu barang, misalnya karet, dan harus mengimpor seluruh kebutuhan bahan makanannya. Meskipun karet adalah cabang produksi dimana negara tersebut memiliki keunggulan komperatif yang paling tinggi, sehingga bisa meningkatkan CPFnya semakin mungkin, tentunya keadaan seperti ini tidak sehat. Seandainya terjadi perang atau apapun yang menghambat perdagangan luar negeri, dari manakah diperoleh bahan makanan bagi penduduk negara tersebut? Jelas bahwa pola produksi seperti yang didiktekan oleh keunggulan komperatif tidak harus selalu diikuti apabila ternyata kelangsungan hidup negara itu sendiri sama sekali tidak terjamin.

  1. Dualisme

Sejarah perdagangan internasional negara-negara sedang berkembang, terutama semasa mereka masih menjadi koloni negara-negara Eropa, ditandai oleh timbulnya sektor ekspor yang berorientasi ke pasar dunia dan yang sedikit sekali berhubungan dengan sektor tradisional dalam negeri. Sektor ekspor seakan-akan bukan merupakan bagian dari negeri itu, tetapi bagian dari pasar dunia. Dalam keadaan seperti ini spesialisasi dan perdagangan internasional tidak memberi manfaat kepada perekonomian dalam negeri. Keadaan ini di negara-negara sedang berkembang setelah mereka merdeka, memang sudah menunjukan perubahan. Tetapi sering belum merupakan perubahan yang fundamental. Sektor ekspor yang “modern” masih nampak belum bisa menunjang sektor dalam negeri yang “tradisional”.

 

Ketiga keadaan tersebut di atas adalah peringatan bagi kita untuk tidak begitu saja dan tanpa reserve menerima dalil perdagangan Neoklasik bahwa spesialisasi dan perdagangan selalu menguntungkan dalam keaadaan apapun. Tetapi di lain pihak, uraian diatas tidak merupakan bukti bahwa manfaat dari perdagangan tidaklah bisa dipetik dalam kenyataan. Teori keunggulan komperatif masih memiliki kebenaran dasarnya, yaitu bahwa suatu negara seyogyanya memanfaatkan keunggulan komperatifnya dan kesempatan”transformasi lewat perdagangan”. Hanya saja perlu diperhatikan bahwa dalam hal- hal tertentu pertimbangan-pertimbangan lain jangan dilupakan. Investible Surplus Meningkat Perdagangan meningkat pendapatan riil masyarakat. Dengan pendapatan riil yang lebih tinggi berarti negara tersebut mampu untuk menyisihkan dana sumber-sumber ekonomi yang lebih besar bagi investasi (inilah yang disebut “investible surplus”). Investasi yang lebih tinggi berarti laju pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Jadi perdagangan bisa memdorong laju pertumbuhan ekonomi. Inilah inti dari pengaruh perdagangan internasional terhadap produksi lewat investible surplus.

Ada tiga hal mengenai pengaruh ini perlu dicatat:

  1. Kita harus menanyakan berapa dari manfaat perdagangan (kenaikan pendapatan riil) yang diterima oleh warga negara tersebut, dan berapa yang diterima oleh warga negara asing yang memiliki faktor produksi, misalnya modal, tenaga kerja, yang diperkejakan di negara tersebut. Dengan lain perkataan, yang lebih penting adalah berapa kenaikan GNP, bukan kenaikan GDP, yang ditimbulkan oleh adanya perdagangan.
  2. Kita harus menanyakan pula berapa dari kenaikan pendapatan riil karena perdagangan tersebut akan diterjemahkan menjadi kenaikan investasi dalam negeri, dan berapa ternyata dibelanjakan untuk konsumsi yang lebih tinggi atau ditransfer ke luar negeri oleh perusahaan- perusahaan asing sebagai imbalan bagi modal yang ditanamkannya? Dari segi pertumbuhan ekonomi yang paling penting adalah kenaikan investasi dalam negeri dan bukan hanya “investible surplus”-nya.
  3. Kita harus pula membedakaan antara “ pertumbuhan ekonomi” dan “pertumbuhan ekonomi”. Disebutkan di atas bagaimana dualisme dalam struktur perekonomian bisa timbul dari adanya perdagangan internasional. Di masa lampau, dan gejala-gejalanya masih tersisa sampai sekarang, kenaikan ivestible surplus tersebut cenderung untuk diinvestasikan di sektor “modern” dan hanya sedikit yang mengalir ke sektor “tradisional”. Pertumbuhan semacam ini justru semakin mempertajam dualisme dan perbedaan antara kedua sektor tersebut. Dalam hal ini kita harus berhati-hati untuk tidak pembagunan ekonomi dalam arti sesungguhnya. Inti dari uraian diatas adalah bahwa kenaikan investible surplus karena perdagangan adalah sesuatu yang nyata. Tetapi kita harus mmpertanyakan lebih lanjut siapa yang memperoleh manfaat, berapa besar manfaat tersebut yang di realisir sebagai investasi dalam negeri, dan adakah pengaruh dari manfaat tersebut terhadap pembangunan ekonomi dalam arti yang sesungguhnya.Vent For Surplus Konsep ini aslinya berasal dari Adam Smith.

Menurut Adam Smith, perdagangan luar negeri membuka daerah pasar baru yang lebih luas bagi hasil-hasil di dalam negeri. Produksi dalam negerin yang semula terbatas karena terbatasnya pasar di dalam negeri, sekarang bisa diperbesar lagi. Sumber-sumber ekonomi yang semula menggangur (surplus) sekarang memperoleh saluran (vent) untuk bisa dimanfaatkan, karena adanya daerah pasar yang baru. Inti dari konsep “vent for surplus” adalah bahwa pertumbuhan ekonomi terangsang oleh terbukanya daerah pasar baru. Sebagai contoh, suatu negara yang kaya akan tanah pertanian tetapi penduduk relatif sedikit. Sebelum kemungkinan perdagangan dengan luar negeri terbuka, negara tersebut hanya mnghasilkan bahan makanan yang cukup untuk menghidupi penduduknya dan tidak lebih dari itu.

Banyak tanah yang sebenarnya subur dan cocok bagi pertanian dibiarkan tak terpakai. Dengan adanya kontak dengan pasar dunia, negara tersebut mulai menamam barang-barang perdagangan dunia seperti lada, kopi, teh, karet, gula, dan sebagainya dengan memanfaatkan tanah pertanian yang menganggur tersebut. Dengan  demikian, pertumbuhan ekonomi meningkat. Yang perlu dicatat disini adalah bahwa pemanfaatan tanah-tanah pertanian baru tersebut memerlukan modal dan investasi yang sangat besar, jauh melebihi kemampuan negara itu sendiri untuk membiayainya. Oleh sebab itu, sejarah mencatat bahwa pembukaan perkebunan-perkebunan hampir selalu berasal dari modal asing. Ini jelas dari sejarah negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, India, Sri Langka, dan banyak lagi lainnya.

Di masa sekarang sumber-sumber ekonomi yang belum dimanfaatkan kebanyakan tidak lagi berupa tanah- tanah pertanian (meskipun kadang-kadang masih demikian), tetapi berupa sumber-sumber alam (khususnya energi) dan kadang-kadang juga tenaga kerja yang murah dan berlimpah dan murah. Modal yang besar dan teknologi tinggi diperlukan bagi pemanfaatan sumber-sumber alam ini, dan semuanya itu seringkali di luar kemampuan negara pemilik sumber-sumber tersebut untuk membiayai dan melaksanakannya. Jadi tetap memerlukan modal dan teknologi asing. Perhatikan bahwa inti dari proses “vent for surplus” ini tetap sama, baik dulu maupun sekarang, yaitu: sumber-sumber ekonomi yang tidak bisa dimanfaatkan kecuali apabila ada saluran ke pasar dunia dan apabila modal asing diperkenankan masuk.

Perbedaan pokoknya adalah bahwa di masa lampau negara-negara pemilik sumber-sumber alam tersebut adalah negara jajahan, sedangkan sekarang adalah negara merdeka dengan pemerintah nasionalnya. Kunci daripada apakah proses “vent for surplus” ini akan menghasikan pembangunan ekonomi dalam arti sesungguhnya dalam arti sesungguhnya ataukah hanya “pertumbuhan ekonomi” seperti yang telah terjadi di zaman lampau, terletak di tangan pemerintah nasional. Mereka harus bisa meraih sebagian besar dari “manfaat perdagangan” yang dihasilkan dan menggunakannya bagi kepentingan pembangunan nasionalnya dalam arti yang sebenarnya. Produktivitas memiliki pengaruh yang sangat penting dari perdagangan luar negeri terhadap sektor produksi berupa peningkatan produktivitas dan efisiensi pada umumnya.

Kita bisa membedakan tiga sumber utama dari peningkatan produktivitas dan efisiensi yang ditimbulkan oleh adanya perdagangan luar negeri.

  1. Economies of scale berarti makin luasnya pemasaran produksi bisa diperbesar dan dilakukan dengan cara yang lebih murah dan efisien (Economies of scale menurunkan Long Run Average Cost dari suatu sector industri).
  2. Teknologi baru berarti perdagangan internasional dan hubungan luar negeri pada umumnya dikatakan sebagai media yang penting bagi penyebaran teknologi dari negara – negara maju ke negara yang belum berkembang. Bentuk yang langsung dari penyebaran teknologi ini adalah apabila dengan dibukanya hubungan dengan luar negeri suatu negara bisa mengimpor barang misalnya mesin yang bisa meningkatkan produktivitas di dalam negeri. Sebagai contoh, suatu negara sedang berkembang mengimpor komputer untuk memperbaiki produktivitas aparat pemerintahnya. Sebetulnya disini yang dimpor adalah “teknologi baru” yang terkandung dalam computer tersebut. Bentuk penyebaran teknologi yang bersifat tidak langsung tetapi kadang sangat penting. Apabila para produsen dalam negeri memperoleh pengetahuan mengenai produk baru. Cara – cara yang dilakukan akan lebih efisien dalam produksi, pemasaran dan manajemen perusahaan pada umumnya, semangat dan motivasi baru untuk melakukan inovasi. Misalnya dimasa lalu petani  dari perkebunan Belanda berupa pengetahuan mengenai produk baru seperti kopi, teh, tembakau, karet dan gula yang laku dipasaran dunia dan cara penanamannya yang baik. “belajar” teknologi baru seperti ini lebih memiliki manfaat yang besar dan  teknologi seperti dalam contoh di atas.
  3. Rangsangan persaingan berarti peningkatan efisiensi tidak hanya terjadi lewat teknologi baru melainkan juga “lewat pasar”. Dikatakan bahwa dibukanya perdagangan internasional tidak jarang membuat sektor – sector tertentu didalam perekonomian yang semula “tertidur” dan tidak efisien menjadi sector yang lebih dinamis berkat adanya pengaruh persaingan dari luar. Sebagai contoh, jika suatu pasar domestic yang dikuasai oleh sebuah perusahaan monopoli yang tidak efisien. Kerugian yang ditanggung masyarakat dengan adanya sector ini akan lebih tinggi. Namun, karena berbagai hal tidak ada perusahaan dalam negeri yang bisa masuk ke sektor ini dan menggeser posisi perusahaan monopoli tersebut. Apabila kemudian hubungan ke luar negeri dibuka, bisa diharapkan bahwa barang – barang yang sama atau serupa dengan hasil produksi sector tersebut tetapi dijual dengan harga yang lebih murah dan kualitas yang lebih baik akan mengalir masuk kedalam negeri. Dalam hal ini dibukanya perdagangan mempunyai pengaruh yang serupa dengan masuknya perusahaan – perusahaan baru yang lebih efisien ke sektor tersebut. Jadi perdagangan luar negeri bisa meningkatkan efisiensi suatu sektor melalui peningkatan persaingan. Dalam prakteknya, Apabila keadaan seperti ini terjadi maka bisa diharapkan bahwa perusahaan monopoli yang merasa kelangsungan= hidupnya dibahayakan akan berusaha untuk menghalang – halangi mengalirnya barang – barang ke luar negeri. Misalnya dengan menuntut pengenaan bea masuk yang tinggi. Dalam hal ini pemerintah harus mempertimbangkan berbagai kepentingan termasuk kepentingan konsumen, produsen, buruh dan kepentingan masyarakat pada umumnya. Seringkali masalahnya menjadi sulit dan rumit karena argumentasi ekonomi sering dikacaukan dengan argumentasi politis dan kepentingan golongan atau sektoral. Ada beberapa hal penting untuk dicatat mengenain kemungkinan peningkatan produktivitas melalui hubungan internasional ini.

 

Diantara ketiga  sumber peningkatan produktivitas yaitu Economies of scale, teknologi baru dan rangsangan persaingan. Salah satu mendapatkan penekanan dan perhatian khusus dari Negara sedang berkembang yaitu teknologi baru. Masalah pemindahan teknologi atau transfer of technology dari Negara maju ke negara sedang berkembang merupakan topik yang paling banyak diperbincangkan baik dikalangan keilmuan maupun perundingan internasional, antara kelompok Negara sedang berkembang dengan kelompok Negara maju. Pemindahan teknologi dilihat sebagai salah satu kunci dari keberhasilan pembangunan di negara yang sedang berkembang.

Sampai berapa jauhkan Negara sedang berkembang dapat memperoleh manfaat teknologi baru melalui perdagangan internasional, modal asing dan bantuan luar negari? Jawaban untuk :

  1. Seberapa jauhkah produsen dan pelaku – pleku ekonomi di dalam negeri siap untuk menerima teknologi baru tersebut ? Hal ini menyangkut bukan hanya keterampilan dan pengetahuan minimal yang harus lebih dulu dimiliki oleh para produsen, buruh didalm negeri tetapi juga berkaitan dengan kesiapan mereka dan dengan ada – tidaknya lingkungan yang menunjang pengalihan teknologi tersebut. Ketidaksiapan dari pihak penerima merupakan faktor penghambat meskipun negaraterkadang Negara sedang berkembang tidak selalu mau mengakuinya dengan jujur.
  2. Sampai berapa jauhkan Negara maju termasuk perusahaan asing yang beroperasi dinegara tersebut bersedia untuk memberikan dan mengajar teknologi mereka kepada Negara sedang berkembang? Kemauan dan kejujuran yang sungguh – sungguh dipihak Negara maju merupakan syarat utama dari berhasilnya program pengalihan teknologi ini. Itikad dari pihak Negara maju dan perusahaan – perusahaannya untuk menyebarkan dan mengajarkan teknologinya juga perlu dipertanyakan, kalau kita lihat betapa lambatnya proses “transfer of technologi ini berjalan dalam prakteknya. Ada satu masalah lagi selain proses pengalihan teknologi itu sendiri yang perlu diperhatikan. Masalai ini adalah mengenai sesuai tidaknya teknologi yang dialihkan bagi kepentingan pembangunan Negara sedang berkembang. Teknologi yang dikembangkan dinegara maju bersumber pada desakan dan keadaan dinegara tersebut. Sedangkan kebutuhan dan keadaan dinegara sedang berkembang mungkin menuntut teknologi yang berbeda. Sekarang orang mulai mempertanyakan apakah computer, traktor – traktor besar, mesin serba otomatis memang teknologi yang diperlukan oleh Negara yang sedang berkembang pada saat ini. Apakah tidak lebih efektif apabila Negara maju membantu Negara sedang berkembang dalam pengembangan teknologi terbaru yang langsung merupakan jawaban bagi kebutuhan Negara sedang berkembang dan tidak hanya memberikan apa yang telah dikembangkan dinegara maju. Dari sini muncul ide – ide mengenai pentingnya mengembangkan teknologi madya dan sebagainya. Tetapi sampai saat ini belum ada jawaban yang tegas bagi pertanyaan seperti ini dan belum ada kesepakatan diantara para ekonom sendiri. Bagaimana dengan sumber peningkatan yang lain? Saying bahwa kedua sumber ini tidak memperoleh perhatian yang sepadan disbanding dengan sumber teknologi baru tersebut. Kedua sumber ini pun tidak kalah pentingnya untuk peningkatan prodiktivitas.
  3. C.    EFEK TERHADAP NERACA PERDAGANGAN

Neraca Perdagangan (Trade Balance) adalah sebuah ukuran selisih antara nilai impor dan ekspor atas barang nyata dan jasa. Tingkat neraca perdagangan dan perubahan ekspor dan impor diikuti secara luas dalam pasar valuta asing. Efek terhadap neraca perdagangan cenderung menaikkan barang-barang impor. Sebaliknya, apabila suatu negara tidak mampu bersaing, maka ekspor tidak berkembang. Keadaan ini dapat memperburuk kondisi neraca pembayaran. Efek buruk lain dari globaliassi terhadap neraca pembayaran adalah pembayaran netto pendapatan faktor produksi dari luar negeri cenderung mengalami defisit. Investasi asing yang bertambah banyak menyebabkan aliran pembayaran keuntungan (pendapatan) investasi ke luar negeri semakin meningkat. Tidak berkembangnya ekspor dapat berakibat buruk terhadap neraca pembayaran. Tantangan Terhadap Tata Internasional yang ada khususnya menyakut pengkotan-pengkotan negara berdasar geoekonomi dan geopolitik masyarakat dunia.

Persekutuan Negara-negara “non blok” yang berharap untuk menantang hubungan neo-kolonialis sesudah perang secaara berangsur-angsur diperluas dan diperkuat antara  Konferensi Bandung pada tahun 1955 dan Konferensi Aljazair pada tahun 1973. Konferensi- konferensi dan pertemuan-pertemuan yang banyak diadakan itu hanya memberikan hasil langsung yang kecil, sedang blok sosialis tak pernah mampu untuk membantu dunia ketiga dalam memperoleh suatu kekuatan berunding kolektif yang efektif. Namun suatu forum untuk perundingan diadakan dengan teerciptanya konferensi PBB untuk perdagangan dan pembangunan (UNCTAD) pada tahun 1964 sebagai suatu “serikat buruh” untuk Negara-negara dunia ketiga. Tuntutan-tuntutan yang dirumuskan.

Hutang resmi pada luar negeri ditentukan sedemikian rupa sehingga mencakup hutang- hutang yang diadakan oleh sector pemerintah, maupun hutang-hutang yang diadakan oleh sector swasta, yang dijamin oleh badan pemerintah. Pertemuan UNCTAD yang pertama sudah meliputi sebagian besar dari masalah-masalah yang ingin dirundingkan dan didasarkan atas asas-asas umum yang termuat dalam piagam UNCTAD yang mewajibkan setiap Negara untuk memberikan sumbangan-sumbangan kepada suatu tata ekonomi internasional yang diperbaiki yang mencakup “kemajuan ekonomi dan sosial di seluruh dunia” dan “perbaikan dalam kesejaahteraan dan tingkat hidup semua orang.

Tindakan kelompok organisasi Negara-negara pengekspor minyak bumi (OPEC), yang meningkatkan harga minyak dunia dengan empat kali lipat, terjadi dengan latar belakang erosi perlahan-lahan dalam hegemoni politik dan militer Amerika Serikat di Seluruh dunia. Ruh dunia, seperti misalnya kekalahannya yang bergema di Asia Tenggara. Tindakan OPEC tersebut di atas mencapai suatu pergeseran yang nyata dalam perimbangan kekuasaan dengan tiga konsekuensi penting :

  1. Tindakan tersebut memperlihatkan keuntungan- keuntungan yang potensial bagi ketiga kelompok negara-negara pengekspor komoditi primer yang dapat menguasai pasaran dunia untuk suatu komoditi yang penting, di mana negara-negara Barat tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri.
  2. Tindakan OPEC memperlemah negara-negara Barat dengan amat mengacaukan neraca pembayaran mereka serta mematahkan monopoli mereka dalam cadangan internasional.
  3. Karena OPEC bersedia untuk menggunakan kekuatan berundingnya untuk menunjang tuntutan-tuntutan lain dari dunia ketiga, maka OPEC pun secara substansial memperkuat posisi berunding dunia ketiga secara keseluruhan. Tantangan itu, setidak-tidaknya untuk, waktu ini, adalah suatu tantangan yang nyata, dan perundingan-perundingan antara negara-negara kaya dan miskin menjadi lebih terarah. Pada Sidang UNCTAD IV tercapai persetujuan mengenai dua hal-pembentukan suatu dana stabilisas  multi-komoditi dan suatu kode untuk pengalihan teknologi. Bidang perundingan lain yang penting ialah Konferensi PBB untuk Hukum Laut, di mana negara-negara dunia ketiga sedang mendesakkan pengaturan internasional baru untuk memastikan hak atas sumber daya; sumber daya laut dan dasar laut. Tetapi kekuatan berunding dunia ketiga masih belum kokoh. Masih harus dilihat apakah produsen-produsen komoditi primer lain, yang diilhami oleh keberhasilan OPEC, dapat merigorganisir kartel-kartel yang efektif. Juga masih harus dilihat apakah Negara-negara Barat dapat memperbaiki kerusakan perekonomian mereka sendiri, dan apakah anggota-anggota OPEC yang lebih kaya akan terus berpihak pada dunia ketiga atau, sebaliknya, lambat laun akan ditarik ke dalam “klub orang-orang, kaya” Sistem harga “dua-tingkat” dari OPEC sudah menunjukkan adanya suatu perpecahan.

 Adalah penting untuk dicatat bahwa sistem sesudah perang, yang mendorong pertumbuhan yang pesat di Eropa dan Jepang selama lebih dari dua dasawarsa, sudah memperlihatkan gejala- geja1a ketidak-stabilan yang gawat sebelum terjadinya krisis minyak. Dalam hal ini perlu disebut tiga kelemahan pokok, yaitu laju inflasi yang makin pesat; tidak stabilnya kurs mata uang dan mata uang, dan perkembangan industri yang berbeda-beda dari berbagai negara yang bersaingan satu sama lain.

Kelemahan-kelemahan ini pada akhirnya dapat merenggangkan persekutuan negara-negara Barat dan melemahkan keterikatan dari sedikit-dikitnya beberapa negara terhadap pengaturan ekonomi dunia yang berlaku. Bidang-bidang Perundingan Utama sangat ditentukan oleh Topik-topik diskusi yang pada waktu ini dibahas secara aktif dapat dikelompokkan dalam tiga kategori: komoditi-komoditi primer, perkembangan industri dan sumber pembiayaan luar negeri. Hingga kini yang terutama ditekankan adalah topik pertama yaitu komoditi primer. Usul-usul khusus yang diajukan mencakup suatu “rencana komoditi terpadu” untuk komoditi- komoditi yang merupakan 80 persen dari seluruh perdagangan komoditi, tidak termasuk minyak bumi, indeksasi harga komoditi-komoditi dan pembentukan asosiasi-asosiasi produsen.

Rencana komoditi terpadu mencakup persediaan golongan penyangga internasional yang dibiayai dengan suatu dana umum yang berjumlah beberapa milyar dollar Amerika Serikat, tekanan pada kontrak-kontrak persediaan besar yang berjangka panjang, pembiayaan kompensasi untuk kehilangan penghasilan yang disebabkan oleh jatuhnya harga, dan peningkatan pengolahan dan distribusi bahan-bahan mentah oleh negara-negara penghasil komoditi. Usul-usul yang lebih kontroversial adalah indeksasi (kaitan) harga-harga komoditi yang diekspor oleh negara-negara dunia ketiga dengan harga-harga yang mereka bayar untuk impor dan usul ini dapat menguntungkan baik produsen maupun konsumen dengan menyediakan pasaran yang stabil, dan memungkinkan pertumbuhan yang lebih pesat. ” Tetapi mereka menghadapi perlawanan dari banyak negara Barat, yang menganggap usul terakhir ini sebagai suatu keinginan untuk meniru OPEC dengan menetapkan harga-harga yang tinggi dan membatasi persediaan.

Bahkan usul pertama dianggap sebagai saran yang lebih buruk bahwa kelebihan persediaan harus disubsidi atas beban mereka. Usul indeksasi akan meliputi suatu perluasan kebijaksanaan dukungan harga yang dijalankan di negara-negara Barat. Usul balasan, yang terutama diajukan oleh Amerika Serikat, adalah pengembangan komoditi-komoditi primer melalui penanaman modal swasta dalam produksi terpadu, pengolahan dan jaringan distribusi. Hal ini tidak dapat diterima oleh banyak negara dimia ketiga, karena akan berarti perluasan penguasaan atas sumber daya-sumber daya alam mereka oleh perusahaan-perusahaan multinasional, yang sudah terjadi dalam bahan- bahan mineral, dan yang mereka sudah sejak lama menganggap sebagai contoh utama dari eksploitasi neo-kolonialis.

 

 Tujuan-tujuan dunia yang ketiga dalam hal pembangunan industri adalah persyaratan yang lebih baik untuk memperoleh teknologi, peluang yang lebih baik untuk menjual barang-barang jadi di pasaran negara-negara Barat dan pengawasan yang lebih besar terhadap kegiatan-kegiatan perusahaan-perusahaan multinasional. Meskipun terdapat kode tentang pengalihan teknologi, namun kemungkinan terjadinya perubahan yang berarti hanya kecil sekali. Negara-negara Barat yang sudah terlibat dalam saling persaingan yang hebat, tidak berhasrat untuk membantu negara- negara dunia ketiga dalam merebut pasaran dari tangan mereka. Selama tahun-tahun terakhir ini wahana utama bagi pengembangan ekspor barang-barang jadi dari dunia ketiga adalah perusahaan-perusahaan multinasional, yang tertarik oleh tenaga kerja yang murah di negara-negara dunia ketiga.

Dalam bidang barang-barang padat karya perusahaan-perusahaan ini mendatangkan perdagangan ke dunia ketiga yang merugikan para pekerja di industri-industri yang sama di Barat. Pemerintah-pemerintah Barat tidak menentang proses ini, meskipun hal ini mempengaruhi kesempatan kerja di negara-negara mereka sendiri, dan pemerintah-pemerintah dunia ketiga sering menyambut balk penghasilan devisa yang diperoleh dari ekspor barang-barang jadi. Kekuatan komersial dari perusahaan-perusahaan multi-nasional merupakan sebab mengapa perundingan-perundingan yang serius mengenai pembangunan industri sangat tidak mungkin, karena pemerintah di banyak negara kaya dan miskin terlampau tergantung pada mereka untuk bersedia melakukan banyak campur tangan dalam kegiatan-kegiatan mereka.

Tetapi bahkan jika suatu kelompok negara-negara dunia ketiga yang lebih besar dapat kesempatan yang lebih baik untuk memasuki pasaran industri dunia, maka hal ini hanya akan mengakibatkan persaingan yang lebih hebat antara mereka tanpa membawa pertambahan netto yang berarti negara Barat berarti bahwa sistem keuangan internasional dalam bentuknya yang sekarang banyak kekurangannya menurut pandangan kebanyakan negara yang ikut serta dalam sistem ini. Tujuan dari setiap kelompok terutama tergantung pada hal apakah mereka adalah negara debitor atau kreditor. Dunia ketiga menghendaki kredit murah tanpa ikatan; negara-negara dan lembaga- lembaga kreditor OPEC dan Barat menghendaki keuntungan dan keamanan. Pemerintah kreditor juga menghargai pengaruh politis yang mereka peroleh, yaitu “ikatan-ikatan” yang ditentang oleh negara-negara debitor dari dunia ketiga dalam pendapatan bagi dunia ketiga sebagai keseluruhan.

Keterbatasan anggaran dalam membangun dan menumbuh kembangakan iklim industrialisasi di negara dunia ketiga, memancing mereka untuk mendapat pembiayaan dari luar negeri, khususnya negara maju. Dan, akhirnya banyak menjadi masalah hutang yang gawat dari banyak negara dunia ketiga itu sendiri, dan itu juga kesulitan bagi negara-negara OPEC untuk menemukan suatu bentuk investasi yang aman bagi penghasilan surplus dari penjualan minyak bumi, dan ketidakstabilan mata uang yang diderita banyak. Tetapi jika negara-negara Barat dapat menetapkan untuk mereka sendiri peraturan-peraturan yang dapat dikerjakan dengan baik mengenai penyesuaian neraca pembayaran, maka mereka akan mampu menyelesaikan masalah- masalah spekulatif tanpa perlu memberikan konsesi-konsesi besar kepada negara-negara dunia ketiga. Pada waktu ini memang dunia ketiga mempunyai hutang besar, terutama sesudah terjadi pertumbuhan yang pesat dalam pinjaman dari pasar modal swasta internasional. Negara-negara kaya akan terpaksa untuk menunda masa pembayaran kembali hutang-hutang ini untuk menghindari hantu kebangkrutan massal dari dunia ketiga, tetapi hal ini tidak mungkin akan menghasilkan persyaratan yang diperlunak.

Bahkan harapan bahwa OPEC akan merupakan suatu sumber kredit baru mungkin akan ternyata suatu ilusi belaka; negara-negara OPEC nampaknya mempunyai pandangan yang sama seperti negara-negara Barat mengenai keamanan dan keuntungan dari dana-dana yang mereka tanamkan, dan nampaknya mereka juga akan berusaha untuk menggunakan setiap kredit yang mereka berikan sebagai suatu cara untuk memperoleh pengaruh politik.

 

 

SUMBER :

Boediono, 2001, Ekonomi Internasional, Edisi 1.Yogyakarta : BPFE-Yogyakarta

http://www.scribd.com/doc/17351198/Buku-Ekonomi-Internasional-Lengkap-OK

http://id.wikipedia.org/wiki/Globalisasi

http://www.forex.co.id/Kamus/ketajaman-trade-balance.htm

 

Penyakit pada organisasi


Kata Cohen dan Cohen (1993), ada dau kelompok penyakit psikologis perusahaan :

Kelompok pertama adalah penyakit psikosis (psychoses), yakni jenis penyakit psikologis yang menyebabkan penderitanya kehilangan kemampuan memahami realitas. Bila perusahaan menderita jenis penyakit ini, perusahaan sering memiliki persepsi yang salah tentang realita lingkungan bisnis yang mengitarinya. Oleh karenanya, dapat membuat inferensi yang salah terdapat pokok-pokok persoalan strategis yang dihadapi. Hal demikian tak hanya terjadi ketika signal lingkungan bisnis amat lemah, akan tetapi juga dapat terjadi ketika lingkungan bisnis telah memberikan signal yang nyata dan jelas. Termasuk dalam penyakit jenis ini adalah : perilaku mania (manic behavior), depresi mania (manic depression), sizoprenia (schizophrenia) dan paranoid.
Kelompok ke dua disebut neurosis (neuroses), yakni ketidakstabilan emosi. Sekalipun penderitanya tidak sampai kehilangan kontak dengan realitas, akan tetapi tidak mampu memahami realitas yang berlangsung. Indikasinya, perusahaan menunjukkan perilaku cemas, takut dan tidak rasional, lebih banyak bersikap reaktif dan tak mampu sama sekali bersikap proaktiv. Perusahaan cenderung memberi nilai pada aspek negatif yang berlebihan dibanding pada aspek positif terhadap peluang, tantangan, ancaman bisnis yang dihadapinya. Termasuk penyakit jenis ini antara lain perilaku neurotik (neurotic behavior), depresi (depression), intoksikasi (intoxication), obsesi kompulsi (obsessive compulsion) dan sindrom pasca trauma (post trauma syndrome).
Apabila perusahaan menderita penyakit psikologis secara kronis, bisa jadi perusahaan gagal mengembangkan keunggulan bersaing. Dalam keadaan yang demikian keunggulan bersaing yang dimiliki akan terus menerus mengalami penurunan (competitive sclerosis). (Gilad 1995)
Ujung-ujungnya, ia tidak mampu bersaing. Perusahaan tak lagi dapat menjalankan fungsi bisnisnya, yang disebut sebagai negaholik (corporate negaholic) oleh Carter-Scott (1991).
AKIBAT penyakit psikologik adalah :
a. rusaknya moral pegawai,
b. menurunnya produktivitas,
c. rendahnya kwalitas produk,
d. rendahnya mutu pelayanan konsumen,
e. frustrasi dan rusaknya karir pegawai,
f. praktik strategi bisnis yang tidak rasional dan memudarnya kepemimpinan.
1. Perilaku Mania
Memiliki kepercayaan diri yang berlebihan dan dipenuhi dengan rasa antusias yang tinggi yang pada gilirannya dapat menyebabkan sangat kecilnya peran logika dan prinsip bisnis dalam pengambilan keputusan. Perusahaan merasa memiliki kemampuan yang tak tertandingi. Oleh karenanya, perhatian ditujukan kepada perumusan rencana dan strategi bisnis yang berskala besar. Kadang manajemen menetapkan target bisnis yang amat tinggi, yang jika dievaluasi secara rasional berada jauh dari kemampuan yang selama ini dimiliki.
2. Depresi mania :
Jika digunakan metafora sebagai penjelas, maka organisasi yang menderita penyakit mania, selalu berada pada tangga nada suara yang tinggi secara terus menerus. Berbeda dengan depresi mania, organisasi yang sedang menderita penyakit ini, kadang berada pada tangga nada yang amat tinggi, namun di saat yang lain, secara mendadak berada pada tangga nada yang paling rendah. Berpindah-pindah pada dua titik ekstrim.
Lebih dari itu, proses tersebut terjadi berulang-ulang dan berkepanjangan. Ketika pada masa mania, organisasi berada pada moda yang antusias, memiliki kepercayaan yang berlebihan, namun jika berada pada moda depresi, organisasi secara mendadak kehilangan energi dan semangat sehingga organisasi hanya memiliki sifat yang apathis.
3. Sizophrenia:
Organisasi yang menderita penyakit ini, ditandai oleh perilaku manajerial yang tidak terorganisir (disorganized), diliputi suasana kebingungan, dan dengan demikian bersuasana chaos (kacau balau). Tak ditemukan perumusan dan implementasi strategi yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.
Oleh karenanya tak heran jika banyak perilaku organisasi yang tak dapat dipertanggungjawabkan secara logis dan tak dapat diduga. Satu departemen tertentu amat sering tidak mengetahui apa yang sedang terjadi/sedang dikerjakan oleh departemen lain dan (tidak merasakan ) keterkaitan antara departemen. Sering juga ditandai dengan sikap overactive, akan tetapi tak terarahkan pada suatu target tertentu.
Beda mania dengan sizophrenia adalah bila pada mania secara pokok memiliki visi, misi dan target yang sangat ambisius dan tak realistis, maka pada sizophrenia terletak pada tidak adanya visi, misi, tujuan dan strategi bersaing yang jelas dan logis. tak ada rumusan kebijaksanaan. Kalaulah ada hampir bisa dipastikan tidak koheren (runtut) dan tidak komprehensif. Oleh karena itu, suasana kerja diliputi ketegangan dan dengan tingkat stress yang tinggi. Dalam aktivitas sehari-hari, orang tidak memahami apa yang diharapkan akan dicapai oleh dirinya sendiri, yang pada gilirannya berakhir pada munculnya rasa khawatir (tidak aman) yang berlebihan.
4. Paranoid:
Organisasi yang menderita penyakit ini ditandai oleh rasa tidak percaya pada siapapun yang berada di dalam atau di luar organisasi. Organisasi memperlakukan siapa saja, termasuk pegawai dengan sikap curiga yang berlebihan. Mereka dilihat sebagai ancaman yang diperkirakan akan mencoba mengambil (mencuri) keunggulan bersaing yang dimiliki organisasi. Oleh karenanya tak jarang, lingkungan kerja menjadi tak bersahabat dan berkembang subur sikap saling curiga.

5. Neurotik:
Penyakit ini ditandai rasa takut yang berlebihan. Jelasnya, organisasi memiliki sifat sebagai penakut. Gejala yang terlihat adalah adanya kekhawatiran atau ketakutan akan ketidakmampuan organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Orang-orang dalam organisasi cenderung memutuskan dan memulai aktivitas dengan menggunakan waktu, dana dan tenaga yang lebih ditujukan untuk menghindari kegagalan dibanding tujuan tuk memperoleh keberhasilannya.
6. Depresi:
Indikasinya adalah kapasitas organisasi terus menerus mengalami penurunan. Pemilik, manajer, dan karyawan yang terlibat di dalamnya bersikap apathis. Mereka tak peduli dengan masa depan organisasi karena mereka tak merasa memiliki kekuatan untuk berbuat sesuatu. Mereka tak memiliki gairah bekerja dan lebih dari itu tak memiliki komitmen. Mereka tak memiliki kemampuan untuk melakukan mobilisasi sumber daya dan dana untuk mencapai misi dan tujuan organisasi. Lebih tragis lagi, ketidakmampuan tersebut justru menjadi pendorong tingginya intensitas depresi yang diderita.
7. Intoksikasi:
Perilaku dalam organisasi persis seperti orang yang kecanduan alkohol atau obat terlarang, persis seperti perilaku orang mabuk. Sekalipun paham bahwa penyakit tersebut memberikan efek negatif, akan tetapi organisasi biasanya tak dapat menerima kenyataan bahwa dirinya sedang menderita penyakit intoksikasi. Oleh karena itu organisasi tidak memiliki keinginan atau bahkan tak mampu mendeteksi penyakit yang sedang diderita. Akibatnya organisasi cenderung menolak tantangan. Organisasi menutup mata dan telinga untuk menangkap signal bisnis, baik yang datang dari internal maupun eksternal. Cepat atau lambat, organisasi akan terjerumus ke dalam jurang kegagalan.

8. Obsesi kompulsi:

Penyakit ini ditandai dengan adanya keinginan yang kuat untuk mengerjakan segala sesuatu secara sempurna. Tak ada kata hanya sekedar baik atau cukup, apalagi minimalis. Akibatnya, organisasi tak mampu sedikitpun memeberikan toleransi terhadap sekecil apapun kesalahan yang terjadi, yang pada gilirannya dapat memberikan dorongan untuk memberikan hukuman kepada mereka yang berbuat kesalahan.

9. Syndrom pasca trauma:

Penyakit ini berupa ketidakstabilan emosional yang terjadi setelah seseorang mengalami pengalaman yang traumatis yang sulit dilupakan karena kesalahan antisipasi yang dibuat terhadap peristiwa yang dinilai memiliki pengaruh berkepanjangan dan signifikan tersebut.

Organisasi dapat mengalami sakit jenis ini setelah ia mengalami peristiwa yang traumatis, misalkan sebagai akibat pengambilan secara paksa (take over), kekalahan kontrak, reorganisasi besar-besaran, rekayasa ulang organisasi, kematian pemilik, kekalahan di pengadilan, perubahan lingkungan bisnis.

Bentuk riil penyakit ini berupa hilangnya orientasi organisasi (disorientasi), yang biasanya ditandai dengan ketidakajegan (inkonsistensi) kebijakan pokok organisasi.Gejala yang muncul misalnya berupa keterkejutan yang berlebihan (shock), perilaku yang tidak konsisten, diingat-ingatnya dan dipertimbangkannya secara terus menerus kegagalan masa lalu dalam pengambilan keputusan strategis, dan adanya konflik perencanaan dan eksekusi kebijaksanaan dengan kebutuhan riil yang mendesak